KOMPAS/SAMUEL OKTORA

Project Concern International (PCI) Nabire memberikan informasi dasar tentang HIV/AIDS kepada warga Desa Bomomani di Gereja Maria Menerima Kabar Gembira di Distrik Mapia, Kabupaten Nabire, Papua, Selasa (14/8).

Liputan Kompas Nasional

Kesehatan: AIDS, Awas Daerah Pedalaman

·sekitar 4 menit baca

Kasus HIV/AIDS saat ini kian mengkhawatirkan. Penyakit mematikan itu menjadi momok bagi warga Papua. Bahkan kini penyebarannya ditengarai sudah merambat jauh ke pedalaman, bukan hanya di kota.

Mengejutkan! Data terakhir 30 Juni 2007 yang dikeluarkan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dan Dinas Kesehatan Nabire menyebutkan, di kabupaten itu tercatat 420 kasus HIV. Dari jumlah itu, 392 orang terkena AIDS, dan 28 orang positif terinfeksi HIV.

Pengidap paling banyak rata-rata di usia produktif, yaitu 20-29 tahun. Di wilayah Papua, posisi Nabire kini berada di peringkat ketiga setelah Mimika dan Merauke. Sebelumnya, Nabire masih di bawah Biak.

Penyebaran dan peningkatan drastis kasus HIV membuat warga suku Mee di Desa Bomomani, daerah pedalaman di Distrik Mapia, Nabire, pun semakin khawatir jika suku mereka “dihabisi” penyakit itu. Sebagai catatan, suku Mee sendiri berdiam di dataran Kamu dan Mapia, jauh di pegunungan. Bomomani berada di daerah pegunungan yang jaraknya 185 kilometer dari Kota Nabire, dengan ketinggian sekitar 1.493 meter di atas permukaan laut (dpl). Saat ini jumlah penduduk Desa Bomomani 411 keluarga atau 1.700 jiwa.

“Indikasi penyebaran HIV/AIDS di daerah pedalaman seperti Bomomani cukup kuat. Hal itu bisa dilihat dari kehidupan seks bebas yang tampaknya kian meluas. Menurut umat, ada yang SD atau SMP sudah terlibat seks bebas,” tutur Pastor Paroki Maria Menerima Kabar Gembira Bomomani Romo Yohanes Ferdinand.

Menurut Romo Ferdinand, salah satu faktor penyebab merebaknya seks bebas di pedalaman adalah karena anak-anak perempuan di kawasan itu mudah terpesona dengan bujuk rayu dan iming-iming uang/harta.

“Itu karena faktor kemiskinan orangtua yang tak mampu memenuhi kebutuhan anak, maupun sekolahnya. Ketika datang laki-laki dengan rayuan uang, bahkan cuma Rp 20.000, anak-anak perempuan di sini mudah terbujuk,” ungkap Romo Ferdinand.

Untuk membendung arus penyebaran HIV/AIDS di daerah pedalaman, Romo Ferdinand akan berusaha kembali menegakkan aturan-aturan adat. Langkah itu mendapat dukungan warga. Sebab, mereka khawatir lancarnya lalu lintas Nabire-Bomomani-Moanemani-Waghete-Enarotali akan menambah cepat persebaran kasus HIV/AIDS.

Tokoh masyarakat Desa Bomomani Amandus Iyai juga prihatin dengan merebaknya kasus HIV/AIDS hingga ke pedalaman. “Padahal, para tokoh adat, pemimpin agama, maupun pemerintah tak kurang dalam memberikan sosialisasi dan nasihat. Tapi memang remaja dan pemuda sekarang makin sulit diatur,” katanya.

Menurut dia, aturan adat dan pengajaran agama sebenarnya sangat kuat. Warga pun umumnya taat. Akan tetapi, pengaruh dari kota juga kuat, termasukdari anak-anak pedalaman yang sering turun ke kota.

Untuk itu, Iyai meminta instansi terkait seperti petugas puskesmas, rumah sakit, dan dinas kesehatan tidak merahasiakan identitas atau keberadaan pengidap. Bahkan, mereka minta supaya pengidap HIV/AIDS dikucilkan atau dilokalisasi.

“Kami ini amat awam soal AIDS. Kami tak mengetahui bagaimana caranya menangani mereka (pengidap), sehingga lebih baik pemerintah membangun satu tempat khusus untuk mereka, dan indentitasnya juga jangan dirahasiakan,” tutur Iyai.

Meski akan sangat sulit direalisasikan, ketakutan Iyai itu mungkin beralasan. Youth Specialist HIV dan AIDS Project Concern International (PCI) Nabire Krisna Tohariadi menyebutkan, berdasarkan temuan Dinas Kesehatan Provinsi Papua, dari sekian banyak kasus HIV/AIDS, pengidap terbesar adalah suku Mee. Diduga, perilaku seks bebas yang saat ini menjangkiti pemuda-pemudi suku itu menjadi pintu masuk penyebaran penyakit berbahaya itu.

Untuk itulah, PCI terus menggalakkan penyuluhan soal pencegahan HIV/AIDS di pedalaman. PCI adalah lembaga yang bergerak dalam bidang kesehatan dan membantu pemerintah dalam memfasilitasi pencegahan kasus HIV dan AIDS di Nabire, Paniai, dan Sorong. Salah satu programnya adalah pelatihan bagi remaja luar sekolah.

Menurut Tohariadi, upaya yang sekarang intensif dilakukan bersama Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Nabire adalah memberikan informasi dasar tentang HIV/AIDS kepada 40 remaja luar sekolah di Gereja Maria Menerima Kabar Gembira Bomomani, Rabu (15/8).

“Remaja luar sekolah itu kelompok paling rentan terkena HIV/AIDS,” ucap Youth Specialist HIV dan AIDS PCI Nabire itu.

Faktor pendidikan

Sementara itu dari pandangan siswa SMA, seperti yang dikemukakan Auvince Wenda dan Albertha Madai, siswa kelas XI SMA Adi Luhur Nabire, penyebaran HIV/AIDS yang makin memprihatinkan di Papua salah satu faktornya adalah pendidikan yang rendah.

“Dengan pendidikan rendah, mereka mudah terpengaruh lalu terjerumus ke seks bebas,” ungkap Wenda. Wenda juga mengharapkan pemerintah atau instansi berwenang menertibkan kerumunan atau kumpulan anak-anak muda, terutama pada waktu malam hari. Sebab dari aktivitas itulah biasa berujung seks bebas.

“Ada juga karena faktor ekonomi. Orangtua tak mampu, lalu anak-anak putus sekolah,” katanya.

Madai kemudian bercerita kasus temannya. Karena orangtua tidak mampu, teman itu bekerja mencari uang. “Ia lalu sering tidur di rumah temannya, entah itu laki-laki atau perempuan,” ujar Madai.

Pengajar SMA Adi Luhur Nabire Adolf Bramandita AN mengatakan, perilaku seks bebas di kalangan remaja dan pemuda Nabire amat memprihatinkan. Mereka berbuat itu tak mengenal tempat. Termasuk apa yang pernah dilihatnya di depan jendela rumahnya.

“Halaman di depan rumah saya itu seperti lokasi pendaratan UFO saja. Begitu lampu saya matikan, mereka bubar,” kata Bramandita.

Menurut Bramandita, fenomena seperti itu karena adanya problem identitas pribadi akibat pola kehidupan yang tidak terkontrol dengan baik. Salah satu kasus adalah kehidupan keluarga yang orangtuanya menikah lagi, sehingga kontrol terlepas pada anak-anaknya.

“Untuk itu, ia mengusulkan dibangunnya indentitas pribadi remaja pedalaman. Salah satu cara yang coba dilakukan di sekolah Bramandita adalah dengan kegiatan ekstra kurikuler tentang HIV/AIDS sejak tahun 2005.

“Kami juga akan mengadakan seminar yang diselenggarakan oleh anggota ekskul tersebut, dengan mengundang peserta dari sekolah lain. Kami juga akan mengajukan proposal ke KPAK, sejauh mana respons mereka. Sebab, tentunya, dari dana APBD diprioritaskan untuk penanggulangan HIV/AIDS,” kata Bramandita.

Upaya yang dilakukan Bramandita dan kawan-kawan tentu saja tidak akan bisa segera menyelesaikan soal. Pemerintah, gereja, dan aktivis kesehatan tentu harus bahu-membahu….

Artikel Lainnya