Kompas/Kornelis Kewa Ama

Ny Maria Letek (37), kanan, meminta tambahan ikan kering dari Ny Jubaidah Umar. Ny Maria menukarkan jagung dengan ikan kering. Di sini terjadi tawar-menawar. Mereka tidak menggunakan takaran tertentu, tetapi berdasarkan perhitungan banyak-sedikitnya barang kedua belah pihak.

Pangan

Pasar Barter: Jembatan Persaudaraan Kristen-Muslim

·sekitar 3 menit baca

Pemeo lama menyebutkan “asam di darat, ikan di laut, bertemu dalam belanga” cocok dikenakan dalam kehidupan masyarakat tradisional suku Lamaholot, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Warga Kristen turun-temurun menetap di dataran tinggi, dikenal sebagai petani asli. Adapun warga Muslim yang menetap di pesisir pantai dikenal sebagai pelaut atau nelayan. Kehidupan Kristen dan Muslim di Flores, atau Nusa Tenggara Timur umumnya, saling melengkapi. Mereka hidup rukun sejak ratusan tahun silam.

Orang Kristen mengolah lahan menghasilkan padi, jagung, umbi- umbian, pisang, dan sayuran. Mereka juga memelihara ternak, seperti ayam, sapi, kerbau, dan kambing.

Sebaliknya, mata pencarian utama warga Muslim adalah nelayan, petani garam, dan pedagang. Mereka menyediakan pakaian, perkakas dapur, serta hasil industri, seperti minyak kapak, balsem, minyak kayu putih, dan minyak tawon.

“Warga Muslim menyadari, mereka turunan dari orang Bajo, Makassar, dan pedagang dari Persia atau Gujarat yang ratusan tahun lalu mendarat di Flores. Sedangkan warga Kristen sebagian datang dari Maluku, sebagian lagi dibaptis oleh misionaris Portugis,” kata Elias Laga Kelake (72), tokoh Muslim dari Desa Waiwerang, Adonara Timur, Flores Timur.

Kedua kelompok masyarakat ini bercampur dalam perkawinan dan adat istiadat sehingga tidak ada batasan di antara mereka.

“Hal paling kuat yang mengikat adalah pasar barter yang berkembang sampai hari ini di kalangan suku Lamaholot, seperti Adonara, Lembata, Solor, Alor, dan daratan Flores bagian timur. Tidak pernah muncul persoalan yang membatasi kegiatan pasar barter ini. Kalau ada kasus, selalu dilihat sebagai masalah pribadi dan tidak dikaitkan dengan agama atau suku,” kata Elias Laga.

Berdasarkan kesepakatan

Proses simbiosis mutualisme terjadi di pasar barter. Warga Muslim berjualan hasil laut dan garam serta perkakas rumah. Sebaliknya, orang Kristen menawarkan beras, jagung, umbi-umbian, dan sayur-mayur. Namun, karena peredaran uang di daerah ini sangat terbatas, mereka menggunakan sistem barter.

Selain mengikat nilai persaudaraan, pasar barter juga menjaga adat, kejujuran, keadilan, pengorbanan, dan rasa senasib. Cara menukarkan barang di sana tidak berdasarkan ukuran atau alat timbang. Semua berdasarkan kesepakatan. Yang terpenting, tidak ada pihak yang merasa dirugikan.

Takaran yang ditetapkan sudah berlaku turun-temurun. Misalnya, satu sisir pisang ditukar dengan tiga genggam ikan teri, lima batang jagung dengan satu piring garam dapur, 10 buah singkong dengan delapan ekor ikan kembung, atau 15 buah pinang muda dengan seekor ikan cakalang.

Menurut Philipus Laga Doni, Ketua Adat Desa Demondei, Flores, orang Muslim dan Kristen di kalangan suku Lamaholot mengenal semboyan hidup tite nayu baya. Artinya, satu nenek moyang, bersaudara secara adat, dan keturunan.

Semboyan ini menciptakan kerukunan dan persaudaraan sejati antara warga Muslim dan Kristen. Di beberapa tempat di kalangan suku Lamaholot, bangunan gedung gereja dan masjid berdekatan satu sama lain.

Camat Adonara Timur, Flores Timur, Lewar Ismael, yang warga Muslim, mengatakan, ia menjadi camat di tengah mayoritas warga Kristen, tetapi selalu mendapat dukungan.

“Hanya ada warga yang pulang dari perantauan sering memberi informasi tidak benar dan menghasut warga untuk melakukan perbuatan yang mengganggu hubungan antar-agama. Tetapi, tindakan itu tidak pernah berhasil karena warga menyadari pentingnya hubungan persaudaraan,” kata Ismael.(KORNELIS KEWA AMA)

“Semboyan mereka, satu nenek moyang, bersaudara secara adat, dan keturunan” Philipus Laga Doni

Artikel Lainnya