Dua dekade lalu, Kedonganan adalah desa nelayan yang gelap dan miskin. Kini, Kedonganan bersinar nyaris setiap malam dan menarik ribuan turis yang ingin makan ikan bakar di bawah taburan bintang di tepi pantai.

Ketika siang berganti malam, suasana di Pantai Kedonganan, Kabupaten Badung, Bali, mendadak jadi romantis. Ribuan pelita dinyalakan di meja-meja makan restoran yang ditata memanjang di sisi pantai. Cahaya ribuan pelita itu bagai sekumpulan kunang-kunang yang memancarkan sinar di kegelapan malam.

Di sanalah, di tepi pantai, turis menikmati makan malamnya dengan berbagai menu ikan laut. Di sebuah kafe, kami mencoba ikan baronang dan kakap bakar yang konon hasil tangkapan nelayan di pagi harinya. Daging ikan yang dibakar saat masih segar itu terasa manis, gurih, dan menyisakan tekstur kenyal. Kelezatannya berkelindan dengan bumbu bali yang ramai dan beraroma tajam.

Dua dekade lalu, Kedonganan adalah desa nelayan yang gelap dan miskin.

Hampir semua kafe di Kedonganan menawarkan menu makanan serupa, juga pengalaman makan senada: di bawah langit bertaburkan bintang di tepi pantai Teluk Jimbaran yang tak henti dikecup ombak. Makan sambil menikmati tarian Bali atau alunan musik sekelompok pengamen, sementara di ujung kanan garis pantai, pesawat yang lampunya berkilauan datang atau pergi dari Bandara Internasional Ngurah Rai.

Pengalaman makan yang memesona itu bisa dinikmati terutama di musim kemarau. Ketika musim hujan yang membawa angin besar ke pesisir barat pantai, acara makan malam di atas pasir Pantai Kedonganan diliburkan. Pantai itu kembali sunyi, tanpa ribuan cahaya ”kunang-kunang”.

KOMPAS/ EDDY HASBY

Ikan segar dijajakan pedagang di pasar ikan di Kedonganan, Badung, Bali, Senin (8/4/2013).

Kisah berubah

Kedonganan belum lama menjadi pemain dalam industri pariwisata di Bali. Sampai pertengahan tahun 1990, desa itu adalah kampung nelayan yang suram dan miskin, tempat menyandarnya perahu nelayan dari berbagai daerah di Jawa. Di tengah gemerlap industri pariwisata Bali, penduduk Kedonganan pun hanya menjadi penonton.

Hal itu masih tertanam dalam ingatan Wayan Langsam (50), warga Kedonganan. Setiap kali mengayuh jukung (perahu) menuju laut, ia hanya bisa menatap iri pada keramaian yang tercipta di puluhan kafe di Jimbaran, desa di sebelah Kedonganan yang lebih dulu keluar dari kemiskinan lewat bisnis wisata kuliner berbasis ikan. ”Saya ingin (berbisnis) seperti tetangga kami di Jimbaran, tetapi rasanya susah sekali,” ungkap Langsam, yang tidak tamat SD itu.

Akhirnya, ia nekat membuka lapak ikan bakar di Pantai Kedonganan meski tak punya keahlian memasak. Hasilnya, warung daruratnya tidak mampu menarik wisatawan. Saat Langsam nyaris frustrasi, datanglah seorang juru masak sebuah kafe di Jimbaran ke warungnya. ”Kami minum arak bersama hingga hampir mabuk. Saat itulah tiang (saya) tanya bumbu untuk membuat ikan bakar yang enak. Dia membocorkan bumbu rahasia dan cara membuat ikan bakar yang enak. Dari situlah tiang tahu semuanya,” kata Langsam, diikuti derai tawa.

Seiring berjalannya waktu, jumlah wisatawan ke Jimbaran meluber juga ke Kedonganan. Kafe Langsam pun dijejali turis. Bisnis warungnya berkembang dan diikuti warga Kedonganan lain. Tiba-tiba saja Pantai Kedonganan dipenuhi sekitar 70 warung ikan bakar yang berdiri semrawut di tanah adat Desa Kedonganan.

”Terjadilah persaingan tak sehat dan saling cemburu. Kafe-kafe itu juga tidak jelas siapa pengelolanya,” ujar Ketua Lembaga Perkreditan Desa (LPD) Kedonganan Ketut Madra.

Kami menyebut sistem ini sebagai kapitalisme sosial. (Kafe) Dimiliki bersama dan dikelola bersama.

Dua rangkaian serangan bom yang salah satunya meledak di Pantai Muaya, Jimbaran, mendesak warga untuk duduk bersama. Rapat warga antarbanjar adat, banjar dinas, desa, kecamatan, hingga kabupaten dilakukan berkali-kali hingga tercapai keputusan: warga sepakat mendirikan 24 kafe yang dimiliki 1.200 keluarga di enam banjar di Kedonganan. Masing-masing banjar mengelola empat warung makan.

”Kami menyebut sistem ini sebagai kapitalisme sosial. (Kafe) Dimiliki bersama dan dikelola bersama. Dengan total investasi awal Rp 12 miliar, kini rata-rata keluarga yang terdaftar (sebagai pemilik) memperoleh pembagian untung Rp 600.000 per bulan,” ujar Madra. Artinya, keuntungan rata-rata warung makan di Kedonganan mencapai Rp 720 juta per bulan.

Model pengelolaan kafe di Kedonganan berbeda dengan kafe di Jimbaran yang menggunakan sistem lelang per lima tahun. Uang lelang dibayarkan kepada pemerintah desa setempat dan dikembalikan kepada masyarakat. ”Awalnya uang sewa per warung Rp 40 juta per lima tahun, sekarang paling mahal sekitar Rp 1,5 miliar,” kata pelopor bisnis kafe di Jimbaran, Ketut Shoma (46).

KOMPAS/HERU SRI KUMORO

Nelayan di Pantai Kedonganan, Bali, menggunakan kapal kecil untuk mengangkut mereka ke kapal yang lebih besar yang bersandar agak di tengah pantai, Kamis (11/4/2013). Ikan tangkapan nelayan Kedonganan terserap ke restoran dan hotel yang banyak tersebar di Bali. Tinggi permintaan ikan di Bali membuat hotel dan restoran mendatangkan ikan dari luar daerah seperti Banyuwangi.

Sentra pariwisata

Industri pariwisata memberikan ”berkah” ekonomi pada banyak desa di Bali. Desa Muaya, Jimbaran, Kedonganan, Nusa Dua, Sanur, dan Tanjung Benoa yang dahulunya juga merupakan desa nelayan berubah menjadi salah satu sentra pariwisata. Warga desa di pesisir yang tadinya hanya bergantung pada tangkapan ikan di pinggir pantai mendapatkan sumber penghasilan baru sebagai pemilik atau pekerja di kafe, hotel, dan usaha antar-jemput turis.

Namun, berkah pariwisata juga berarti berubahnya gaya hidup. Di Desa Kedonganan yang warganya sekitar 90 persen nelayan pada tahun 1990-an kini justru langka nelayan. Seturut perkembangan industri wisata dan taraf hidup, anak-anak muda di Kedonganan enggan mengadu nasib di laut yang berbahaya. Padahal, permintaan ikan dari kafe-kafe di desa itu dan desa tetangganya Jimbaran melonjak hingga 2,6 ton ikan per hari. Permintaan itu saat ini sebagian besar dipasok oleh nelayan Muncar, Banyuwangi, dan nelayan Madura (Jawa Timur). Sisanya didatangkan dari sentra perikanan laut di Sulawesi.

Di Desa Kedonganan yang warganya sekitar 90 persen nelayan pada tahun 1990-an kini justru langka nelayan.

Profesi nelayan berlalu bersama kisahnya yang menyedihkan seperti hilangnya ayah atau suami yang ditelan badai. Generasi nelayan yang kini tersisa tinggallah laki-laki berusia 50-an tahun ke atas. Salah seorang di antaranya Wayan Langsam, pemilik Kafe ”New Langsam” yang masih melaut, bukan semata mencari ikan, tetapi lebih untuk bernostalgia.

Sambil mengayuh jukung di Teluk Jimbaran, Langsam menikmati ”ribuan kunang-kunang” yang kini berkelap-kelip di desanya, Kedonganan. Sebuah tanda bahwa nasib desa dan penghuninya telah berubah: dari nelayan menjadi pengusaha.

(Benny D Koestanto/ Budi Suwarna/ Putu Fajar Arcana)