KOMPAS/EDDY HASBY

Warga di Kecamatan Muara Kelingi, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, Selasa (9/3), melintas dengan perahu motor di antara abrasi dan pepohonan yang tumbang di sisi Sungai Musi. Abrasi dan pepohonan tumbang akibat banjir bulan Februari lalu terlihat hampir sepanjang aliran Sungai Musi, dari Tebing Tinggi, Kabupaten Empat Lawang, menuju Muara Kelingi, Kabupaten Musi Rawas, sejauh 70 kilometer.

Liputan Kompas Sumbagsel

Jelajah Musi 2010: Sungai Musi Semakin Ditinggalkan

·sekitar 5 menit baca

M Sidik (57), warga Muara Kelingi, Kabupaten Musi Rawas, bersama keluarganya menempati rumah yang letaknya persis di tepi kiri Sungai Musi. Setiap hari, dia mencari ikan di sungai itu untuk dikonsumsi, tapi kalau bepergian ke kota atau kampung terdekat, Sidik tidak pernah menggunakan jalur sungai.

Ayah tiga anak tersebut lebih memilih menggunakan sepeda motor atau angkutan umum. “Saya sudah lama sekali tidak menggunakan perahu untuk pergi ke kota, apalagi sampai di Palembang. Waktu perjalanannya terlalu lama. Lagi pula tidak ada lagi perahu yang khusus mengangkut penumpang. Sekarang kami lebih suka naik sepeda motor atau angkutan umum sebab jalannya beraspal dan waktu tempuh juga lebih pendek,” kata Sidik.

Pengakuan serupa juga dilontarkan Budi (35), pengelola salah satu toko barang kebutuhan pokok di Pasar Tebing Tinggi, Sumatera Selatan. Sejak tahun 1985, tidak ada lagi perahu atau kapal yang mengangkut penumpang dan barang dari Tebing Tinggi ke Palembang atau sebaliknya.

Pengangkutan barang dari Palembang umumnya menggunakan mobil atau melalui jalur darat. Pilihan itu dilakukan menyusul adanya pembangunan jalan raya yang beraspal mulus sehingga waktu tiba di tempat tujuan lebih cepat dibandingkan dengan melalui sungai.

“Kalau menggunakan mobil, kami hanya membutuhkan waktu sekitar delapan jam dari Tebing Tinggi ke Palembang. Bahkan, barang yang diangkut pun langsung masuk ke gudang. Sedangkan menggunakan perahu menghabiskan waktu belasan jam, kemudian masih membutuhkan kendaraan untuk mengangkut barang menuju gudang,” jelas Budi.

Kendati demikian, Budi mengakui, pengangkutan melalui sungai lebih efektif sebab dalam sekali angkut bisa sebanyak 25 ton per kapal. Sebaliknya, dengan truk maksimal enam ton untuk sekali jalan.

Masalah lain adalah saat musim kemarau, pendangkalan di Sungai Musi sangat parah. Misalnya, di Tebing Tinggi, badan sungai mengering yang memungkinkan warga menyulap menjadi lapangan sepak bola. Tidak sedikit pula warga mengambil batu kerikil bulat untuk dijual. “Kondisi ini membuat sungai sudah sulit dilewati perahu,” ujar Budi.

Untuk ke kebun

Dalam perjalanan tim Jelajah Musi Kompas menyusuri Sungai Musi dari Tanjungraya di Kabupaten Empat Lawang hingga di Sangau Desa, Kabupaten Musi Banyuasin, pada 8-10 Maret ini sama sekali tidak tampak perahu atau kapal mengangkut barang dari Palembang menuju daerah-daerah di wilayah hulu. Yang tampak hilir mudik hanyalah perahu-perahu kecil berkapasitas 10 PK yang digunakan masyarakat setempat untuk menyeberangi sungai menuju kebun atau kampung terdekat.

Bahkan, saat tim Jelajah Musi mencari perahu berkekuatan 40-80 PK di Tebing Tinggi untuk disewa menuju Muara Kelingi, ternyata tidak ditemukan. Perahu yang ada hanya berkekuatan 10 PK, tetapi tidak ada seorang pemilik perahu pun yang bersedia melayani rute itu. Alasannya, mereka belum pernah menyusuri rute yang waktu perjalanannya sekitar 6,5 jam.

Setelah dilakukan negosiasi cukup lama, akhirnya dua pemilik perahu bersedia disewa seharga Rp 2 juta per perahu. “Kami belum pernah menggunakan perahu ke Muara Kelingi atau daerah lain. Kalau pergi ke tempat jauh selalu lewat jalan darat,” ujar Andi (42), operator perahu asal Tebing Tinggi.

Dalam perjalanan tim Jelajah Musi dari Tebing Tinggi hingga ke Muara Kelingi, sejauh 137 kilometer, pada Selasa (9/3), misalnya, hanya dijumpai dua perahu kecil yang melewati Sungai Musi. Perahu itu digunakan pemiliknya menuju kebun karet dan ladang yang tidak jauh dari permukimannya.

Ketika Kompas mencoba meminta informasi seputar kondisi aliran Sungai Musi di daerah lain di luar wilayah mereka, masyarakat setempat selalu menjawab tidak tahu. Kalaupun ada yang bersedia berbagi cerita, informasi yang disampaikan umumnya berupa pengalaman yang terjadi pada belasan hingga 20-an tahun silam.

“Sepertinya Sungai Musi makin ditinggalkan sebab tidak ada informasi terbaru tentang Sungai Musi yang kita dapat dari warga dan juga pejabat terkait. Inilah salah satu dampak dari maraknya pembangunan jalan raya di Sumsel,” komentar seorang wartawan Kompas.

Sementara itu, di dinding kiri dan kanan alur sungai tampak abrasi yang luar biasa. Kasus ini terjadi pada puluhan lokasi mulai dari Tebing Tinggi sebagai akibat dari perambahan hutan tanpa kendali untuk perkebunan kelapa sawit.

Gara-gara jalan

Hasil penelitian Nurhadi Rangkuti, Kepala Balai Arkeologi Palembang, warga Sumatera Selatan mulai berpaling dari sungai sejak tahun 1930-an. Itu bersamaan dengan pembangunan jalan raya menghubungkan Palembang dengan kota-kota lain di Sumsel yang dilakukan penjajah Belanda.

Kehadiran jalan raya yang letaknya tidak terlalu jauh dari aliran Sungai Musi langsung mengubah perilaku masyarakat terhadap sungai. Rumah mereka yang semula menghadap ke sungai diubah menjadi membelakangi sungai.

Perubahan tersebut semakin marak terjadi setelah kemerdekaan Indonesia. Sejak itu pemerintah menggalakkan pembangunan jalan hingga menuju kawasan hulu Sungai. Ini yang membuat sungai tidak lagi memiliki peran segalanya bagi kehidupan masyarakat di Sumatera Selatan.

“Pergeseran perlakuan terhadap sungai membuat perlakuan terhadap sungai pun makin tidak beraturan. Misalnya, perusakan hutan tanpa kendali, pencemaran sungai, dan lain semacamnya,” ujar Nurhadi.

Pengamatan Kompas dari hulu Sungai Musi hingga di Kota Palembang, pada pertengahan Februari 2010, hanya sekitar belasan permukiman yang rumahnya menghadap ke sungai. Permukiman itu tersebar di Kelurahan Ngulak I, Kecamatan Sanga Desa, Kabupaten Musi Banyuasin, dan Desa Ulak Pacet, Kecamatan Sekayu, Kabupaten Musi Banyuasin.

Di kedua perkampungan itu, rumah penduduk berada sekitar 15 meter dari bibir sungai. Di antara tepi sungai dan rumah warga dibangun jalan raya. Ketika banjir pada pertengahan Februari 2010 akibat meluapkan Sungai Musi, rumah penduduk di permukiman tersebut nyaris terbebas dari genangan air.

Sejak dibangun jalan raya di tepi Sungai Musi belasan tahun lalu, desa ini jarang digenangi air yang meluap dari Musi. Mungkin posisi jalan raya yang ada di depan rumah agak lebih tinggi dari permukaan air. Jika rumah-rumah di sini tergenang banjir, airnya tidak masuk dari sungai, tetapi melalui parit,” jelas Jaya Kusuma (53), warga Kelurahan Ngulak I.

Penambangan pasir

Aktivitas di tengah Sungai Musi baru mulai menggeliat setelah melewati Sekayu. Mula-mula kita menyaksikan penambangan pasir di tepi sungai pada puluhan lokasi. Para pekerja menyedot pasir melalui pipa yang ditancapkan di sungai menggunakan mesin. Pasir tersebut disedot ke darat untuk dikumpulkan di lokasi tertentu.

Semakin bergerak ke depan menuju Palembang, penambangan pasir bukan lagi di tepi, melainkan di tengah alur sungai. Penambang tidak hanya menggunakan perahu dari kayu yang berkapasitas besar, tetapi juga langsung menyertakan tongkang berkapasitas ratusan ton.

Kegiatan tersebut disinyalir mendapat izin resmi dari pemerintah daerah setempat. Itu sebabnya, para penambang tanpa beban melakukan penambangan pasir meski dampak kerusakan lingkungan dari kegiatan tersebut sangat besar.

Beginilah nasib Sungai Musi saat ini, semakin ditinggalkan dan terabaikan. Sungai yang jadi kebanggaan masyarakat Sumatera Selatan itu kini lebih menyerupai keranjang sampah.

Kerusakan lingkungan yang menimpa sungai tersebut ternyata hanya menjadi keprihatinan tanpa ada upaya nyata untuk mengatasinya. Semoga program kunjungan Musi mampu memicu kesadaran masyarakat untuk memulihkan sungai ini.

Artikel Lainnya