KOMPAS/AGUS SUSANTO

Dokter Satgas Pamtas RI-PNG dari Yonif Para Raider 432/Kostrad mengecek warga yang sakit di Distrik Muara Tami, Jayapura, Papua, Senin (17/7).

Liputan Kompas Nasional

Kapur Tulis dan Stetoskop Pun Jadi “Senjata” * Jelajah Tapal Batas

·sekitar 4 menit baca

Di tengah pergeseran paradigma keamanan konvensional menuju keamanan manusia, para prajurit penjaga perbatasan Indonesia-Papua Niugini tidak hanya mengandalkan senapan serbu SS2-V4 buatan Pindad sebagai senjata. Kapur tulis dan stetoskop jadi gaman tambahan. Bukan untuk melawan manusia, melainkan membangun manusia; demi merawat rasa kebangsaan warga di tapal batas.

Pada pertengahan Juli lalu, Dokter Aikardi (28) menempelkan stetoskop ke dada Josep Wepafoa. Ia mendengarkan saksama suara yang tersalur lewat stetoskop itu, lantas menggeser chestpiece untuk mendengarkan suara perut.

Aikardi juga memeriksa kedua mata Josep. Ia meminta Josep mengarahkan pandangan mengikuti gerakan jarinya. Namun, mata Josep tidak menangkap apa-apa selain berkas cahaya. Katarak menyerang lensa mata pria renta ini. ”Bagian dalam mata kotor, lensanya harus diganti. Nanti saya kasih pengantar ke rumah sakit supaya bisa diganti lensanya,” tutur Aikardi yang berseragam TNI Angkatan Darat.

Aikardi merupakan tentara sekaligus dokter di Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) RI-Papua Niugini (PNG) Batalyon Infanteri Para Raider 432 Kostrad. Ia bertanggung jawab menangani masalah kesehatan yang dihadapi anggota Satgas Pamtas dan mendapat tugas tambahan memeriksa kesehatan masyarakat perbatasan, gratis.

Di tengah perubahan paradigma politik perbatasan—dari semula pendekatan keamanan konvensional yang fokus pada ancaman militer menuju konsep keamanan manusia yang mendorong kesejahteraan masyarakat—pendekatan sosial menjadi strategi yang penting.

Di satu sisi, hal itu membantu masyarakat mendapat pelayanan publik dasar. Di sisi lain, hal ini menghasilkan relasi yang lebih baik antara TNI dan penduduk setempat yang akhirnya juga memudahkan tugas prajurit dalam menjaga perbatasan.

Selain menyasar kesehatan, strategi pendekatan sosial Satgas Pamtas juga berupa pengajaran kepada anak-anak di sekolah. Di Kampung Mosso, seorang tentara berpangkat prajurit kepala, Sarifuddin (32), bertugas mengajar 32 siswa dari kelas I hingga V. Mereka semua belajar di satu ruang dan dengan jadwal mata pelajaran yang sama, hanya berbeda materi.

Letnan Kolonel (Inf) Ahmad Daud Harahap, Komandan Satgas Pamtas RI-PNG Batalyon Infanteri Para Raider 432 Kostrad, menuturkan, TNI Angkatan Darat sudah lama membidik pembinaan dan pemberdayaan masyarakat perbatasan untuk menebalkan nasionalisme.

”Kami mendekati anak-anak di sini sehingga, saat mereka besar nanti, termasuk saat sudah bekerja, dasar nasionalismenya sudah tertanam,” ujar Daud.

Kesenian dan pertanian

Keakraban pun terjalin antara tentara dan anak-anak. Seorang siswi SMP Negeri Inpres Mosso, Sartika Mojo (15), mengatakan kerap bermain bersama teman-temannya di area pos Satgas Pamtas di Mosso, antara lain bermain voli dan sepak bola. ”Senang diajari tentara karena mereka kasih pelajaran baik dan penyayang,” kata dia.

Strategi pendekatan sosial juga digunakan prajurit perbatasan RI dengan Timor-Leste di Motamasin, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur. Di bawah komando Letnan Satu (Inf) Armansyah sebagai komandan kompi, mereka memberi contoh bercocok tanam, merawat penduduk yang sakit, dan memperkenalkan kesenian.

Selasa (1/8) sore, Motamasin sedang diguyur hujan. Waktu untuk melintas ke Republik Demokratik Timor-Leste telah habis sejak pukul 16.00. Tujuh anggota Satgas Pamtas Sektor Barat Yonif 742/Satya Wira Yudha asyik bekerja di dekat barak.

Mereka masing-masing memegang sebidang tripleks berukuran 50 sentimeter kali 30 sentimeter. Pasir halus, lem, dan cat adalah ”senjata” mereka sore itu. Beberapa lukisan pasir yang telah jadi digantung di dinding didominasi gambar wajah.

”Ini salah satu kegiatan kami tiga bulan terakhir, untuk memperkenalkan ke masyarakat kalau ada cara berkesenian yang mudah. Lagian, di sini bahannya tersedia jadi lebih mudah,” kata Armansyah.

Dengan lukisan pasir tersebut, lanjut Armansyah, masyarakat setidaknya bisa mengembangkan cendera mata khas Motamasin. Selain itu, prajurit juga bercocok tanam di halaman belakang kompleks tempat tinggal prajurit. Mereka menanam terong, cabai, bawang, ubi kayu, bayam, labu emas, dan kangkung. Tanaman kangkung sudah dipanen beberapa waktu lalu.

Menurut Armansyah, langkah itu bertujuan untuk menunjukkan tanah di Motamasin subur. Dengan demikian, warga bisa bercocok tanam di sekitar rumah untuk memenuhi kebutuhan akan sayuran.

Tidak hanya itu, prajurit juga diwajibkan melakukan kunjungan ke rumah-rumah penduduk untuk memeriksa kesehatan warga secara gratis. Kesehatan penghuni rumah dicek, diberi tindakan medis, atau dirujuk ke puskesmas jika penyakit warga harus mendapat tindakan lebih.

Inilah wajah lain para prajurit yang biasanya lekat dengan kesan keras dan kaku. Kesigapan menggunakan senjata tidak dilupakan, tetapi ”senjata” sosial kemasyarakatan juga diberdayakan. (JOG/GAL/AGE/JAL/IRE/REK)

KOMPAS/IWAN SETIYAWAN

Prajurit Satgas Pamtas Yonif 742/SWY mengisi waktu luang dengan membuat lukisan pasir barak Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Motamasin di Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur, Selasa (1/8). Kegiatan ini sebagai sarana pelatihan bagi warga perbatasan RI dengan Timor-Leste.

Artikel Lainnya