KOMPAS/IWAN SETIYAWAN

Petrus Yoseph Bayleto.

Liputan Kompas Nasional

Sosok: Petrus Yoseph Bayleto – ”Kuli PAUD” di Tapal Batas * Jelajah Tapal Batas

·sekitar 4 menit baca

Menyiapkan generasi emas adalah misi khusus bagi Petrus Yoseph Bayleto. Ia pernah merasakan getirnya perang saudara sehingga ia terpanggil untuk ikut membangun fondasi nasionalisme di tapal batas. Jalur ”nasionalismenya” yang tidak biasa-biasa saja itu mempertemukannya dengan banyak dunia baru, termasuk dunia film.

”Saya ini kuli PAUD. Itu sudah! Kalau kuli, kan, kerjanya harus bagus biar majikan bangga. Majikannya, ya, anak-anak itu, ahli waris NKRI. Mereka akan menjaga Merah Putih berkibar lebih tinggi pada 2045,” kata Petrus Yoseph Bayleto yang biasa disapa Yap.

Ia tekun menyiapkan generasi emas untuk menjaga Indonesia melalui Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Fajar Usia Emas di Kelurahan Tenukik, Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Selasa pagi, awal Agustus lalu, 40-an anak-anak berusia 3-6 tahun riang gembira di PAUD yang digagas sejak enam tahun lalu itu. Teriakan dan lengkingan khas anak-anak terdengar bersahut-sahutan.

Tiga guru mendampingi anak-anak yang terbagi di dua kelas. Dua guru mendampingi anak berusia lebih muda. Anak-anak itu sedang diajarkan membersihkan tangan sehabis berkegiatan. Satu per satu bocah-bocah lucu itu maju ke pancuran air dibimbing sang guru.

”Si Bella, yang baju ungu itu, anak eks pengungsi (Timor Timur yang sekarang menjadi Republik Demokratik Timor-Leste). Yang pakai kaus kaki merah juga. Ada juga anak-anak yang beda suku atau agama,” ucap Yap. Apa pun latar belakangnya, anak-anak di PAUD itu bebas bermain dan bersosialisasi dengan anak lain. Tidak ada perbedaan perlakuan.

”Bukankah dengan menghargai perbedaan kita semakin rendah hati? Tidak selalu merasa paling benar?” ujar Yap sambil mengawasi anak-anak dari teras rumahnya. PAUD itu memang tepat berada di depan rumah Yap, memanfaatkan lahan kosong di halaman.

Toleransi adalah pelajaran utama yang dikenalkan kepada anak-anak PAUD Fajar Usia Emas. Di ruang kelas yang penuh tempelan kertas dan poster itu dengan mudah ditemukan penjelasan tentang agama-agama yang ada di Indonesia, ciri-ciri fisik anak-anak, suku-suku, dan peta Indonesia.

Sebagian besar gambar itu dicetak sendiri oleh Yap dengan mengunduh dari internet. PAUD ini masuk 12 besar PAUD holistik integratif terbaik se-Kabupaten Belu dari Save The Children.

Yap berharap pelajaran tentang toleransi akan terus melekat di memori anak-anak sehingga mereka bisa menjadi perekat kehidupan berbangsa di kemudian hari.

Hal lain yang terus ia dengungkan, termasuk kepada para guru, adalah pentingnya merawat nasionalisme. ”NKRI itu sudah final. Tugas kita bagaimana mengenalkan nilai terebut kepada anak-anak. Makanya setiap menyanyikan lagu kebangsaan setiap pagi, saya ingatkan guru agar memberi contoh menghormati lagu kepada anak-anak,” katanya.

Anak itu investasi

PAUD Fajar Usia Emas resmi berdiri sejak 2012. Sekitar 40 persen biaya pembangunan PAUD ditanggung Yap dan keluarga meski mereka harus berutang. Sisanya berasal dari bantuan pemerintah.

Sebelum mengurus PAUD, Yap adalah aktivis perlindungan anak di Kabupaten Belu. Pada 2010 dia mendapat pelatihan tentang PAUD. Dari situ dia tertarik membuat PAUD karena belum ada di sekitar tempat tinggalnya.

Dengan segala upaya, sebuah ruang kelas berukuran 5 meter x 6 meter akhirnya terbangun. Setelah menemukan guru yang mau mengabdi, Yap mendatangi satu-satu rumah warga yang mempunyai anak berusia 3-6 tahun untuk mengenalkan PAUD Fajar Usia Emas. Dia juga mencetak selebaran, mengedarkannya di sejumlah tempat.

Usahanya membuahkan hasil. Sebanyak 30 anak mendaftar. Setahun pertama, Yap menggratiskan biaya sekolah. Baru pada 2013, setiap siswa dikenai biaya Rp 20.000 per bulan. ”Tahun ini baru naik Rp 25.000 per bulan. Namun, kami tidak harapkan dari situ karena kondisi masyarakat juga belum cukup baik. Yang penting anak-anak di usia emasnya bisa sekolah dulu.”

Honor guru yang dibayar Rp 200.000 per bulan diperoleh dari bantuan sana-sini. Tidak jarang kas keluarga dari toko kelontong miliknya digunakan untuk menutupi biaya operasional.

Jalan hidup

Jalan hidup Yap memang tidak biasa-biasa. Nenek dari ayah Yap yang berasal dari suku Kemak, wilayah Timor-Leste, pindah ke Atambua sejak 1911. Generasi ini lalu beranak pinak di wilayah Atambua. Yap yang tumbuh dewasa di Atambua sejak 1995 bekerja di Dili ketika wilayah itu masih bergabung dengan Indonesia.

”Tahun 1999 saya melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana perang saudara terjadi. Saya tidak mau itu terjadi lagi. Perang itu tidak ada untungnya,” kata Yap dengan air mata berlinang. Setelah kembali ke Atambua, Yap memulai kehidupan baru. Ia pernah menjadi pengawas proyek. Setelah itu ia menjadi aktivis sosial.

Karena aktivitas sosialnya, Yap terlibat dalam pembuatan video dokumenter yang diproduseri dan disutradarai duo Mira Lesmana dan Riri Riza. Setelah itu, Mira dan Riri membuat film tentang kondisi sosial di Atambua dengan judul Atambua 39 Derajat Celsius.

Setelah melalui casting, Yap terpilih memerankan seorang eks pengungsi yang meninggalkan istri dan anak perempuannya di wilayah Timor-Leste. ”Tokoh itu digambarkan suka mabuk dan marah-marah. Kalau itu saya bisa. Masalahnya saya disuruh menangis juga. Itu susah sekali,” cerita Yap yang tidak memiliki latar belakang akting ini.

Postur Yap dengan tinggi 180 sentimeter lebih, rambut bagian belakang panjang, dan kumis tebal memang tidak cocok menangis.

Setelah film itu tayang, Yap mendapat banyak sambutan baik. Di ajang Indonesian Movie Awards 2013, Yap terpilih sebagai pemeran pendukung pria terbaik. Yap tidak sanggup hadir di ajang itu sehingga penerimaan piala diwakili Didi Petet (almarhum).

Lalu, mengapa tidak mengajarkan akting kepada anak muda di lingkungan? ”Saya masih fokus di PAUD dulu. Saya juga mau kuliah. Ilmunya kurang kalau cuma lulusan SMK. Saya juga sedang memperjuangkan guru-guru di PAUD untuk bisa kuliah,” ucap Yap.

Artikel Lainnya