Jadi rumah bagi kopi robusta, Lampung sekian lama tanpa pamor. Sejumlah tantangan pun masih harus diselesaikan untuk melekatkan kembali citra kopi sebagai bagian dari jati diri Lampung.

Sekitar 20 petani kopi di Desa Way Harong, Kecamatan Air Naningan, Kabupaten Tanggamus, Lampung, berkumpul pada Sabtu (10/2/2018). Selain belajar membuat pupuk kandang, hari itu mereka juga membahas harga kopi yang tak pernah berpihak kepada petani. “Kalau petani mau petik merah, ada yang berani beli kopi Rp 40.000 per kilogram,” ujar Danuri, salah satu petani yang juga penyuluh pertanian di Kecamatan Air Naningan.

Tanggapan para petani beragam. Sebagian bergairah. Maklum, harga yang ditawarkan Danuri itu lebih tinggi daripada harga kopi yang biasa diterima petani, yakni Rp 23.000-Rp Rp 25.000 per kg. “Kalau dari hitungan, harga itu cukup menguntungkan. Selisihnya lumayan besar,” ucap Widodo (31), petani lainnya.

Namun, tak sedikit yang pesimistis. Harga itu belum cukup memuaskan. Minimal, petani bisa untung apabila harga kopi tiga kali lipat lebih mahal. Harga itu, kata para petani, mirip dengan arabika yang dijual di Pulau Jawa.

Danuri tak patah arang. Dia lalu menawarkan agar setiap keluarga petani mengumpulkan minimal 20 kg kopi petik merah. Dia mengajak petani meruntuhkan anggapan bahwa perlakuan pada kopi sebatas tanam, petik, dan jual.

Walaupun Danuri sadar, untuk mendapatkan kopi yang baik, petani harus lebih sabar dan berkeringat. Selain harus petik merah, mereka juga harus melakukan pengolahan pascapanen dengan baik. Setelah dipetik, biji kopi direndam di dalam air. Biji kopi yang mengapung harus dibuang karena berarti busuk. Penjemuran juga tidak boleh di atas tanah. Petani harus menyiapkan lantai jemur atau para-para agar biji kopi yang telah kering tidak berbau dan berasa tanah.

KOMPAS/RADITYA HELABUMI

Buruh perempuan menyortir biji kopi kering jenis robusta di gudang pengolahan kopi di kawasan Way Laga, Bandar Lampung, Lampung, Kamis (8/2/2018).

“Kalau sudah terkumpul, penjualan dilakukan melalui kelompok tani. Jadi, kelompok yang bernegosiasi dengan pembeli agar harga kopi bisa lebih tinggi. Kalau dijual perseorangan, dikhawatirkan hanya menimbulkan persaingan tidak sehat,” tutur Danuri.

Pro kontra dalam perbincangan siang itu mengisyaratkan belum jelasnya masa depan kopi di Lampung. Dari penanaman, pemeliharaan, hingga pascapanen, banyak kopi robusta Lampung diolah dan dijual seadanya. Akibatnya, robusta jadi kopi kelas dua dengan stigma tak enak dan harga murah.

Padahal, dibandingkan dengan arabika, volume panen robusta lebih banyak. Di Indonesia, luas lahan robusta mencapai 912.135 hektar (tahun 2015). Bagaimana dengan arabika? Luas lahannya ”hanya” 321.158 hektar. Dari sekitar 600.000 ton produksi kopi Indonesia, sebanyak 70 persen merupakan kopi robusta.

Lahan terluas

Lampung menjadi rumah robusta paling luas. Mencapai 160.876 hektar (tahun 2015) dengan produksi 120.000 ton biji kopi robusta atau 80 persen dari robusta nasional. Sebanyak 147.000 keluarga di Lampung bergantung pada komoditas ini. Meski demikian, petani robusta Lampung belum sejahtera.

Tak terima dengan keadaan itu, sebagian kafe di Lampung mulai bergerak. Petani diajak berkolaborasi. Rinaldi Hartono, pemilik kedai kopi Ulubelu Coffee, juga punya cara menarik untuk memperkenalkan kopi robusta Lampung kepada pengunjung kedainya.

Rinaldi menyediakan kopi gratis bagi pengunjung yang ingin mencicip berbagai varian kopi di kedainya. Selain Ulubelu Coffee, setidaknya ada 20 kedai kopi lain di Bandar Lampung yang juga gencar mempromosikan kopi robusta terbaik Lampung. Kedai-kedai itu menghadirkan kopi robusta tanpa campuran. Tak menyajikan asalan, tetapi kualitas nomor satu, fine robusta.

”Semakin banyak gelas kopi yang diminum, akan semakin banyak orang yang mengenal cita rasa kopi robusta Lampung. Semuanya dimulai dari cara menanam dan pascapanen yang baik,” katanya.

Era baru kopi robusta ini memberikan secercah harapan. Petani memiliki dua pilihan pasar. Tak sekadar dijual kepada pengepul dan perusahaan kopi, tetapi ada kedai kopi yang menampung bahkan memberikan harga lebih tinggi meski volumenya belum banyak.

Mengejar Vietnam

Akan tetapi, cita-cita Rinaldi lebih dari sekadar mengenalkan robusta. Apabila dikelola dengan baik, menurut dia, Indonesia dapat menggeser Vietnam sebagai penghasil utama kopi dunia. Kini, di Vietnam, tiap pohon kopi dapat menghasilkan 3-4 ton per musim panen, lebih banyak dari rata-rata panen robusta sebesar 600-700 kg pohon per musim panen.

”Sepintas, kita masih kalah karena produksinya kecil. Namun, Vietnam sudah mentok, sedangkan kita masih bisa berkembang minimal 3-4 ton per pohon per musim panen. Kita jadi bisa menyalip Vietnam, bersaing dengan Brasil dan Kolombia. Harganya pun bakal jauh lebih tinggi meski sekarang masih banyak tantangan yang harus diselesaikan,” tuturnya.

KOMPAS/RADITYA HELABUMI

Buruh perempuan menyortir biji kopi kering jenis robusta di gudang pengolahan kopi di kawasan Way Laga, Bandar Lampung, Lampung, Kamis (8/2). Saat masa panen tiba jumlah buruh perempuan yang bekerja lepas untuk menyortir kopi akan bertambah.

Tantangan terbesarnya, antara lain, pendampingan petani di kebun dan pasar. Pengetahuan petani robusta, misalnya, tertinggal jauh sehingga butuh kerja keras.

Tohari (80), petani kopi di Desa Air Kubang, Air Naningan, menyebutkan, penjemuran kopi dengan diletakkan di tanah sudah dilakukan sejak puluhan tahun silam. Cara itu diajarkan oleh nenek moyangnya. ”Selama ini, tidak ada masalah. Setelah kering, biji kopi itu langsung dikemas dan dijual kepada pengepul. Masih laku meski harganya rendah,” katanya.

Selain minim pengetahuan, Tohari juga tidak punya biaya untuk membangun lantai semen guna menjemur kopi. Untuk membangun lantai semen ukuran 7 meter x 10 meter, misalnya, dia butuh sekitar Rp 5 juta untuk membeli pasir dan semen. Bahan yang harus dibeli ada di luar kecamatan itu membuat ongkos angkut mahal. Harga sewa satu truk sekitar Rp 1 juta.

Padahal, jika diolah dengan benar, kopi yang dipanen dalam kondisi benar-benar matang akan memiliki cita rasa lebih kuat. Selain itu, biji kopi tidak cepat pecah dan warnanya pun kekuningan. Harga jual pun lebih tinggi meskipun selisih harganya relatif sedikit, hanya Rp 1.000-Rp 2.000 per kg.

Ketua Kelompok Tani Loh Jinawi Desa Way Harong Trubus Widodo mengatakan, selama ini belum banyak pembeli yang berani membeli kopi dengan harga tinggi meskipun petani telah melakukan petik merah dan pengolahan pascapanen dengan baik.

“Pernah ada yang menawarkan membeli dengan harga lebih baik, tapi selisih hanya Rp 2.000-Rp 3.000 per kg. Harga itu tidak sebanding dengan biaya tambahan yang harus kami keluarkan,” ucapnya.

KOMPAS/LUCKY PRANSISKA

Pertemuan rutin Kelompok Tani Loh Jinawi Desa Way Harong, Kecamatan Way Lima Kabupaten Pesawaran, Lampung, Sabtu (10/2).

Tidak adanya jaminan harga membuat petani tidak tertarik melakukan petik merah. Akhirnya, pengolahan pascapanen juga dilakukan sekadarnya karena dianggap tidak terlalu memengaruhi harga.

Prioritas pengembangan

Berkaca dari kasus itu, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Lampung Dessy Desmaniar Romas menyatakan, kopi robusta menjadi salah satu program prioritas pengembangan komoditas di Lampung. Salah satunya dengan peremajaan tanaman kopi. Hal ini karena lebih dari 50 persen pohon kopi di Lampung berusia lebih dari 25 tahun sehingga produktivitasnya tidak optimal. Tahun ini, pemerintah membagikan 340.000 benih kopi unggul secara gratis.

Pemerintah daerah juga mendorong pengembangan kampung kopi di Kabupaten Lampung Barat, tepatnya di Desa Rigis Jaya, Kecamatan Air Hitam. Desa itu dipilih karena mayoritas warganya petani kopi. Di sana, terdapat hamparan kebun kopi seluas 901 hektar yang dikelola oleh 206 keluarga. ”Selain dirancang sebagai pusat pembinaan dan pelatihan terkait kopi, kampung itu sekaligus tempat wisata dengan konsep agrowisata,” lanjut Dessy.

Saat ini, Pemerintah Provinsi Lampung, Pemerintah Kabupaten Lampung Barat, dan warga Desa Rigis Jaya mempersiapkan peresmian kampung kopi tersebut. Sejumlah fasilitas, misalnya gazebo, gerai, dan toilet, sedang dibangun. Warga juga berlatih membuat oleh-oleh untuk dijual kepada pengunjung. Menurut rencana, kampung kopi itu akan diresmikan bersamaan dengan acara Festival Kopi Lampung Barat yang digelar pada akhir Juni 2018.

KOMPAS/RADITYA HELABUMI

Contoh beberapa jenis biji kopi robusta yang telah disangrai di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Lampung di Kecamatan Natar, Lampung Selatan, Jumat (9/2/2018). Di lokasi ini juga dikembangkan kampung kopi sebagai wahana edukasi mengenai kopi.

Suparyoto, tokoh masyarakat di Desa Rigis Jaya, menuturkan, Desa Rigis Jaya tidak hanya daerah penghasil kopi. Desa yang dikelilingi kawasan Hutan Lindung Register 45 B dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan itu juga menawarkan pemandangan yang elok dan memesona. ”Wisatawan juga bisa menghirup udara segar dan menikmati pohon-pohon hutan yang menjulang tinggi,” katanya.

Kini, warga sedang merancang pembangunan kampung kopi di desanya. Selain merencanakan pendirian sekolah kopi, warga juga berencana membangun pondok-pondok kecil di sekitar kebun. Warga juga akan membangun kedai kopi untuk memperkenalkan cita rasa kopi lokal kepada wisatawan.

“Langkah awal pembentukan kampung kopi dimulai dengan penguatan sumber daya manusia dan meningkatkan kapasitas warga sebagai petani kopi. Petani robusta harus berdaya di rumahnya sendiri dengan kopi terbaik,” ujarnya. (CORNELIUS HELMY/VINA OKTAVIA)