Selasa (9/1/2018), hujan langsung melebat setibanya kami di Dusun Tretes, Desa Jogomulyan, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Machmoed (76), warga setempat, dengan gesit berlari mencari naungan untuk menghindar dari hujan. Di usianya yang tak lagi muda, Machmoed sangat bersemangat membantu kami menelusuri masa lalu demi mengenal sejarah kopi di Malang.

Ketika hujan semakin deras, Machmoed membantu kami supaya bisa berteduh. Dia menggedor rumah salah seorang warga, Supiani (40). Rumah Supiani rupanya bekas rumah mandor besar Nitirejo. Mandor besar adalah sebutan untuk pengawas kebun di bawah tuan besar Belanda.

Sebagai keturunan mandor besar perkebunan kopi milik Belanda, Supiani mengatakan tidak begitu tahu mengenai sejarah leluhurnya.

Namun, arsitektur rumah Supiani sungguh menarik. Dinding rumahnya kombinasi antara tembok di bagian bawah dan kayu di bagian atas. Di bagian belakang, dinding rumah masih memakai pelat logam kuno berukuran sekitar hampir 1 meter x 0,5 meter. Walau demikian, rumah mandor besar Belanda di Pabrik Kopi Tretes tersebut tetap terlihat sederhana dengan lantai tanah.

Kompas/Hendra A Setyawan

Bekas reruntuhan pabrik kopi zaman Belanda di Dusun Tretes, Desa Jogomulyan, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Selasa (9/1/2018). Kawasan ini merupakan penghasil utama kopi robusta di Malang sejak zaman kolonial.

Sambil menunggu hujan reda, Machmoed bercerita, rumah tersebut dibangun di atas fondasi rumah lama. Di beberapa bagian, masih tampak struktur batu fondasi rumah asli. Tidak puas hanya menceritakan secara lisan, ia pun bergegas berjalan menuju kebun belakang rumah.

Di bagian belakang rumah, tampak sisa reruntuhan bangunan setinggi lebih kurang setengah meter. Masih terlihat struktur bangunan lama, tangga masuk ruangan, dan beberapa kepingan keramik kuno. Menurut Machmoed, pernah ada sebuah cerobong pembakaran pabrik setinggi 30 meter di lahan yang kini ditumbuhi pepohonan sengon itu.

Di seberang rumah Supiani, terlihat saluran air kuno yang tembus hingga sungai. Saluran air tersebut, kata arkeolog dan sejarawan Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono, diduga untuk menggerakkan turbin sebagai sumber listrik. “Dahulu, tidak semua rumah ada listriknya. Hanya rumah mandor dan tuan besar yang ada listriknya,” ucapnya.

Kompas/Hendra A Setyawan

Bekas reruntuhan pabrik kopi zaman Belanda di Dusun Tretes, Desa Jogomulyan, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Selasa (9/1/2018).

Hujan mulai mereda. Machmoed pun mengajak rombongan kami untuk menyaksikan sisa-sisa rumah salah seorang tuan besar Belanda di Pabrik Kopi Tretes Panggung. Rumah itu kini ditempati keluarga Jimat (66) yang mengatakan mendapatkan warisan dari Jiyun, ayahnya. Sang ayah diduga mendapatkan rumah tersebut setelah agresi militer Belanda pertama tahun 1947-1948. Saat itu, aset Belanda dinasionalisasi ke tangan pribumi.

Melihat rumah itu, masih terbayang betapa gagahnya di masa lalu. Bangunan dan halamannya berada di lahan yang letaknya lebih tinggi. Jalan di depan rumah merupakan jalan utama desa. Di dalam rumah, masih ada pula beberapa benda kuno, seperti 3 ranjang besi, 4 daun pintu, serta teko lawas pembuat kopi dan teh.

Menurut John Bako Baon, peneliti Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, dalam buku berjudul Kopi Indonesia Tiga Abad, di Malang pernah ada perkebunan kopi bernama Tretes Panggung. Pada tahun 1912, hasil produksi kopinya tercatat 4.534 pikul (1 pikul = 61,5210 kilogram). Tanaman kopi di perkebunan itu adalah jenis liberika, arabika, dan robusta.

Kebun kuno

Kompas/Hendra A Setyawan

Pabrik pengolahan kopi di tengah areal perkebunan kopi milik PTPN XII Kebun Bangelan, di kaki Gunung Kawi, Wonosari, Malang, Jawa Timur, Senin (8/1/2018). Kebun Bangelan menghasilkan kopi robusta yang diekspor ke Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang.

Buku itu juga menginventarisasi banyak perkebunan kopi kuno. Dulu, ternyata ada lebih dari 65 perkebunan kopi yang tersebar mulai dari wilayah Sumber Pucung, Ngebruk, Kepanjen, Gondanglegi, Turen, Dampit, Singosari, hingga Lawang.

Dalam sejarahnya, Malang Raya menjadi titik mula hadirnya kopi jenis robusta di Tanah Air. Buku 100 Tahun Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia 1911-2011 mencatat, kopi robusta pertama kali masuk ke Indonesia pada 1900. Kehadiran kopi robusta merupakan jawaban terhadap merajalelanya penyakit karat daun yang menghabisi tanaman kopi arabika di Indonesia.

Biji kopi robusta pertama didatangkan dari Kongo Belgia (sekarang Zaire) di Afrika Barat. Pada 30 Juni 1900, diangkut 150 biji kopi robusta yang dibeli seharga 2 franc dari I’Horticulture Coloniale Brussels, Belgia. Biji kopi diangkut menggunakan kapal SS Gendeh milik Rotterdamsche Lloyd dari pelabuhan Rotterdam, Belanda, menuju Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

Pada 10 September 1900, bibit kopi robusta tersebut diterima di Kebun Soember Agoeng, tenggara Kota Malang. Saat tiba, hanya tujuh bibit yang mati. Bibit kopi itu kemudian ditanam di Kebun Soember Agoeng, diprakarsai Tuan Rauws yang merupakan sekretaris dewan direksi perusahaan perkebunan Cultuur Mij Soember Agoeng. Bibit lainnya ditanam di kebun Wringin Anom dan Kalibakar, Malang.

Tahun 1901, Kedirische Landbouw Vereniging (gabungan pengusaha perkebunan di wilayah Kediri) mendatangkan bibit robusta dan dibagikan kepada 20 maskapai perkebunan anggotanya. Bersamaan dengan itu, pemerintah kolonial Belanda juga mendatangkan 24 bibit kopi robusta dari Brussels, Belgia, dan ditanam di kebun percobaan pemerintah di Bangelan, Malang (lereng Gunung Kawi), untuk penelitian sebelum disebar ke daerah lain. (DAHLIA IRAWATI/SIWI YUNITA CAHYANINGRUM)