Bukan pekerjaan mudah mengajak orang Papua untuk menanam kopi. Tanaman ini berpuluh tahun lamanya kalah pamor. Di kebun, banyak pohon kopi menjulang tinggi karena tak terawat.

Sejak enam tahun terakhir, Torsina Wenda (40) bergiat mengajak mama-mama petani untuk menanam kopi. Dari kampung asalnya di Peragaba, pedalaman Distrik Pyramid, Kabupaten Jayawijaya, penanaman kini meluas pada enam distrik. Dari yang semula telantar, hamparan itu kini berubah menjadi perkebunan kopi rakyat. Kebun yang tersebar di Distrik Pyramid, Bolagmee, Asologaima, Jalengga, Biri, dan Kuragi itu dikelola lebih dari 200 perempuan petani.

Tak sembarang kebun yang mereka bangun. Tiap-tiap hamparan kopi diteduhi dengan tanaman penaung. Lantai kebun pun tak sesak oleh semak, sebagaimana umum ditemui pada kebun-kebun lainnya di Papua.

Di sela kesibukan mengurus anak, bertanam ubi, dan beternak babi, para mama petani tetap merawat kopinya. Hasil panen buah kopi tidak dijual langsung kepada tengkulak. Namun, para mama kini terampil mengolahnya menjadi biji beras (greenbean). Bahkan, ada yang sudah mampu menyangrai dan mengolah jadi bubuk kopi dengan cara tradisional.

Kecintaan pada budidaya kopi tak lahir begitu saja. Ketika pertama kali kopi dikembangkan oleh Pemerintah Kabupaten Jayawijaya, tahun 2010, nama Torsina tidak masuk dalam daftar petani penerima bantuan bibit gratis. Ia pun belum tahu caranya menanam kopi. “Tadinya sa (saya) cuma tahu tanam ubi, piara (pelihara) babi. Kopi tidak (tanam),” ujarnya.

Empat tahun kemudian, tanaman mulai berbuah di wilayah itu. Para petani setempat menyambut panen dengan antusias. Torsina pun melihat buah-buah kopi tampak ranum. Warnanya merah-merah mengilap. Ia rasakan para petani bersukacita mendapatkan uang dari hasil panen.

DANIAL ADE KURNIAWAN

Torsina memetik kopi di lahan dekat tempat tinggalnya di Dusun Pyramid, Wamena, Papua, Kamis (22/3/2018).

Pada panen berikutnya, hasil kopi lebih banyak lagi. Di situ ia dapati sebagian petani mulai kewalahan panen sehingga sebagian tanaman dibiarkan tak dipanen.

Torsina memanfaatkan kesempatan itu. Ia membantu petani memetik buah-buah merah, tetapi untuk dijadikan bibit. Setelah cukup umur, bibit ditanam di kebunnya. Jumlahnya 100 batang.

Empat tahun kemudian tanamannya pun berbuah. “Hasil panen langsung saya jual ke pedagang di kota. Akhirnya dapat uang. Senang sekali,” ujarnya mengenang.

Ia pun makin tertarik untuk mengembangkan kopi. Dari semula 100 batang, penanaman kopinya terus diperluas. Dari situ, Torsina semakin menyadari kopi ternyata memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi. Ia bandingkan dengan ubi. Meskipun hasil panen dapat langsung dijual ke pasar, harga ubi hanya Rp 50.000 per noken (10 kilogram). Nilainya setara dengan buah kopi Rp 5.000.

Berbeda halnya dengan kopi. Jika diolah serius, hasil kopi bisa mendatangkan nilai tambah yang berlipat-lipat. Di wilayahnya, harga biji gabah kini Rp 20.000 per kg. Harga biji beras Rp 45.000 hingga Rp 70.000, sedangkan bubuk kopi Rp 120.000 hingga Rp 160.000 per kg.

Nilai tambah

Keinginan untuk mendapatkan nilai tambah dari kopi mendorong Torsina mendatangi kantor Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya. Ia mengikuti pelatihan budidaya dan pengolahan kopi.

Dari situ, Torsina meyakini besarnya peluang yang bisa didapatkan. Nilai tambah akan meningkatkan kesejahteraan petani. Namun, Torsina tak ingin mahir sendiri. Ia pun mengajak mama-mama petani bergabung. “Mama-mama yang lain bisa meraih sejahtera dari kopi,” katanya.

KOMPAS/IRMA TAMBUNAN

Pengolahan tradisional kopi di Papua. Setelah buah kopi dicuci dan dikupas dengan tangan, biji gabah basah dijemur di atas wadah noken.

Satu kali, Torsina dan suaminya yang merupakan kepala suku setempat mengumpulkan para mama di halaman depan rumah. Mereka memotong babi untuk menjamu tamu makan. Setelah semua orang kenyang, ia pun mulai berbicara. Para mama diajak menanam kopi serta cara membibitkan, memangkas tanaman, dan cara memanen yang benar.

Ia pun mengajak mereka membentuk kelompok tani. Mereka rutin berkumpul. Dengan telaten, ia ajari para mama soal praktik budidaya yang benar. Penyuluh dari dinas terkait pun diundang untuk memberikan pelatihan seperti yang pernah ia dapatkan.

Setelah para mama terampil, sang suami memberikan izin untuk membuka 15 hektar tanah adat menjadi kebun percobaan. Selama menunggu hasil panen, para mama diberdayakan memanen hasil kopi miliknya hingga mengolahnya jadi biji beras.

Mereka berbagi tugas, mengupas, menjemur, menggiling, dan menyortir kopi. Keuntungan dari hasil penjualan kopi masuk ke kas kelompok, lalu dibagi rata sesuai pekerjaan masing-masing.

Kini, para mama sudah punya tanaman sendiri dan memanen hasil kopi dari kebun masing-masing. Untuk mengolah biji kopi, mereka manfaatkan kayu tanaman pelindung kopi, yakni dari pohon gini, untuk membuat toki-toki (alu). Toki-toki digunakan untuk menghancurkan kulit gabah untuk menjadi biji beras. Bisa juga untuk menumbuk biji sangrai menjadi bubuk kopi.

Seiring dengan kian terbukanya pasar kopi Papua, harga kopi setempat pun terus beranjak naik. Para mama bergembira.

Data Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Papua menyebutkan masih banyak lahan kopi di Papua telantar karena tak diurus petaninya. Kondisi itu mengakibatkan banyak tanaman cepat tua alias tak produktif. Luasnya total 9.400 hektar yang menyebar di Kabupaten Jayawijaya, Tolikara, Puncak Jaya, Lanny Jaya, Dogiyai, Deiyai, dan Paniai.

Di Distrik Pyramid, cukup luas kebun kopi yang telantar dari program pengembangan kopi terdahulu. Bahkan, banyak ditemukan dari tepi jalan, tanaman kopi yang menjulang setinggi lebih dari 3 meter. Buahnya kecil-kecil, jarang-jarang, bahkan ada yang tak lagi berbuah.

Kebun kopi ditinggalkan pemiliknya karena merantau ke kota. Menurut Torsina, penelantaran itu juga tak lepas dari masih minimnya perhatian pemerintah daerah memberdayakan petani. Dengan hanya menjual buah merah, kesejahteraan sulit mereka dapatkan. Petani ingin lebih berdaya.

Pengembangan produk turunan pascapanen semestinya diperkuat. Tak sekadar menyalurkan bantuan peralatan, tetapi juga melatih petani cara menggunakannya. Kini jamak ditemui mesin-mesin mangkrak di gudang-gudang unit pengolahan kopi petani. Ini karena petani tak dilatih dengan baik untuk menggunakan dan merawatnya. Bantuan mesin jadi seperti sia-sia.

Torsina mengatakan, para mama di kampung-kampunglah yang menjadi tulang punggung pembangunan kopi daerah. Mereka terbukti telaten merawat dan mengolah kopi. “Kalau daerah ingin memajukan kopi Papua, berdayakan mama-mama petani. Bantu mereka. Maka, mereka akan semakin tekun merawat kopi,” ujarnya. (IRMA TAMBUNAN)

 

Biodata

Nama: Torsina Wenda (40)

Suami: Dani Tabuni (45)

Alamat: Kampung Perabaga, Distrik Pyramid, Kabupaten Jayawijaya, Papua

Organisasi: Kelompok Tani Wenta