KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Batik sudah menjadi bagian keseharian sebagian warga Jambi. Mereka memakai batik saat pergi ke pasar di daerah Danau Teluk, Kota Jambi, Jumat (10/6) lalu.

Batik Jambi-Bengkulu

Selisik Batik: Rentang Batik di Dua Negeri

·sekitar 5 menit baca

Tidak hanya di Jawa, di Pulau Suwarnadwipa pun batik tidak kalah lekat dengan kehidupan masyarakat setempat. Seperti di Jambi dan Bengkulu, kain yang dibuat dengan perintang malam ini tidak hanya dipakai dalam kehidupan keseharian, tetapi juga turut menyertai proses kehidupan sejak lahir hingga mati.

Pagi itu Nenek Sonah (70) keluar dari rumahnya untuk ke ladang. Terselip di bawah lengannya selembar kain batik jambi motif tampuk manggis. Baju dasternya juga bermotif batik yang pada bagian bawah dilapisi sarung batik bermotif durian pecah dengan tumpal pucuk rebung. ”Dari dulu, tiap hari ya begini. Pakai kuluk (tudung kepala) biar tak panas,” katanya.

Di huma sebelahnya, Sukiyah (58) tengah sibuk mencabuti rumput di sela tanaman kacang panjang. Di kepalanya bertengger kuluk, juga dari sarung batik.

Sarung batik menjadi pakaian sehari-hari perempuan di Jambi meski penggunaannya kini memudar dan kebanyakan hanya dipakai orang tua. Kain yang dililitkan di pinggang ini biasanya dilengkapi sarung atau selendang batik yang digunakan sebagai tengkuluk (kuluk) atau tudung lingkup. Tudung digunakan seperti kerudung yang menutupi wajah hingga hanya menyisakan dua kelopak mata.

Lekatnya perempuan Jambi dengan batik terlihat dalam aktivitas sehari-hari di Pasar Olak Kemang, Jambi. Penjual dan pembeli mengenakan sarung batik meski sebagian besar merupakan kain cetak (printing) bermotif batik dari Jawa. Mereka juga memiliki batik tulis atau cap buatan pembatik Jambi, tetapi dikenakan pada saat lebih istimewa, seperti menghadiri undangan pernikahan. Harga batik tulis produksi lokal cukup mahal mengingat bahan baku kebanyakan harus didatangkan dari Jawa yang membengkakkan biaya produksi.

Tidak sekadar mengenakan batik, banyak warga Desa Olak Kemang dan beberapa desa lain di kawasan Seberang juga pandai membatik. Salah satunya Azmiah (49) yang sejak usia 10 tahun sudah belajar membatik. Selama 10 jam setiap hari, Azmiah duduk bertekun dengan canting dan malam, menggoreskan motif-motif khas Jambi di atas berlembar-lembar kain.

”Saya meneruskan apa yang dilakukan ibu saya. Motif saya buat sendiri dengan mereplika kain-kain lama,” ujarnya.

Menurut Azmiah, ketika ia kecil, pembuatan batik lebih ditujukan untuk dikenakan sendiri. Ini mengingat batik dipakai dalam kegiatan keseharian, baik di dalam maupun luar rumah. Penerapan kain batik jambi relatif tidak mengenal strata. Batik bisa dipakai di mana saja tanpa aturan soal motif. Penggunaannya hanya dibedakan lewat cara pakai dan modelnya. Misalnya, model tengkuluk untuk ke ladang tentu berbeda dengan tengkuluk untuk menghadiri upacara adat. Ada 50 jenis kuluk yang dikenal masyarakat Jambi dari sejumlah kota/kabupaten di sana, bahkan ada yang menginventarisasinya mencapai 86 model kuluk.

Azmiah tinggal di kawasan yang disebut Seberang, yakni di seberang pusat Kota Jambi yang terpisahkan Sungai Batanghari. Kawasan ini meliputi Kampung Tengah, Ulu Gedong, Olak Kemang, dan Mudung Laut. Mereka akrab dengan batik dari generasi ke generasi. Kini ada setidaknya 200 orang yang menekuni batik di kawasan Seberang.

Sebagai kawasan cagar budaya Provinsi Jambi dan sentra pembuatan batik, masyarakat di tempat tersebut masih teguh memegang adat dan tradisi warisan leluhur, salah satunya penggunaan batik dalam kehidupan sehari-hari. Kain batik berperan penting dalam setiap siklus hidup, mulai dari lahir hingga mati. Batik juga dipakai dalam beberapa upacara adat, seperti pernikahan, buaian bayi, cukuran bayi, khitanan, pencak silat, penutup jenazah, dan ikat kepala pria. Bahkan, batik pernah menjadi alat tukar dalam perdagangan.

Pendiri Jambi Heritage, Junaidi T Noor (70), mengatakan, batik yang dianggap identik dengan Jawa bukan barang baru di Jambi. Batik pada awalnya dikenakan bangsawan Jambi. Hubungan Jambi dan Jawa terjalin sejak Ekspedisi Pamalayu pada abad ke-13. Jambi menjadi kerajaan vasal dari Singosari. Junaidi mengutip tulisan HJ de Graaf tentang suasana di Kesultanan Jambi dan menggambarkan orang Jambi yang lebih Jawa daripada orang Jawa. Ini terlihat, antara lain, lewat pakaian serta sebutan bagi pejabat dan bangsawan, seperti raden, tumenggung, panembahan, depati, atau adipati. Kata serapan dari bahasa Jawa hingga kini juga masih dipakai, seperti kulo, inggih, dan sampeyan.

Berhias kaligrafi

Begitu pula di Bengkulu dengan batiknya yang disebut besurek yang terkait erat dengan daur hidup manusia. Batik berhias kaligrafi huruf Arab ini biasanya digunakan untuk upacara cukur bayi, bedabung atau kikir gigi, ziarah kubur bagi calon pengantin wanita, acara pengantin mandi-mandi (siraman), tamat kaji (khataman Al Quran), serta tutup jenazah dan keranda. Tradisi ini masih ada, terutama di desa, meski meredup di kota.

”Zaman dulu belum disebut sebagai batik, melainkan kain besurek. Kain ini lebih banyak digunakan perempuan karena bentuknya selendang lebar yang panjang. Untuk laki-laki biasa dipakai sebagai kain setengah tiang dengan baju melayu,” tutur Ketua Badan Masyarakat
Adat Provinsi Bengkulu S Effendi.

Menurut Effendi, pemakaian besurek di masa lalu tidak boleh sembarangan karena bertuliskan rangkaian huruf Arab yang bermakna. Itu sebabnya besurek lebih banyak digunakan untuk ritual keagamaan. ”Dulu orang tua marah kalau kita letakkan besurek sembarangan,” ujarnya.

Kini, huruf kaligrafi Arab yang tertuang di atas batik besurek sengaja dibuat tidak lagi mengandung makna. Hanya sebagai huruf-huruf lepas yang diatur penempatannya agar terlihat indah. Berbeda dengan pada masa awal kemunculan kain besurek yang diperkirakan diturunkan dari semacam kebiasaan membuat rajah atau azimat.

”Pada awal 1980-an terjadi perdebatan ketika besurek akan dijadikan pakaian harian sehingga disepakati huruf-huruf yang tertulis tidak boleh diambil dari cuplikan ayat Al Quran,” kata Effendi.

Contoh batik yang dikenakan dalam daur hidup manusia, seperti untuk buaian atau ayunan bayi, selendang saat pengantin mandi-mandi, dan penutup jenazah, bisa dilihat di Museum Negeri Provinsi Bengkulu.

Dominasi batik jambi dan bengkulu sebagai tekstil yang paling akrab dengan masyarakat setempat juga dipengaruhi hampir punahnya tradisi tenun songket di kedua daerah itu. Dalam sejumlah upacara adat, kain songket memang masih dipakai, tetapi sebenarnya bukan merupakan produk setempat, melainkan berasal dari Palembang.

Pembatik Asniarti pernah ingin menghidupkan kembali tenun songket bengkulu. Ia mendatangkan keponakannya dari Sumatera Barat yang pintar menenun untuk mereplika motif-motif tenun klasik bengkulu. Sayang, responsnya hampir nihil sehingga Asniarti terpaksa menghentikan upayanya karena kehabisan modal. Kini, ia hanya berkonsentrasi membuat batik tulis besurek.

Batik bengkulu dan jambi mampu kembali naik daun, antara lain, karena digunakan sebagai seragam pegawai, baik negeri maupun swasta, dan murid sekolah. Batik hidup karena masih tetap dikenakan dan dibuat. Hubungan antara batik, pembuat, dan pemakainya erat seperti lingkaran yang saling menghidupi.

Artikel Lainnya