Menginjakkan kaki di Nusa Penida segera terasa bahwa daerah ini sedang berbenah cepat sebagai destinasi wisata kelas internasional. Tidak ingin ketinggalan dengan ”saudara seberangnya”, Pulau Bali, energi pulau kecil ini akan dipancarkan oleh masyarakat serta pantainya. Nusa Penida membuka pintunya untuk ditelusuri.

Nusa Penida menjadi tujuan dari tim Jelajah Terumbu Karang untuk memotret keindahan alam bawah laut ataupun kehidupan masyarakat yang tinggal di pesisirnya. Selama empat hari di akhir bulan Oktober 2017, tim yang beranggotakan 10 orang berada di sana dan membagi tugas untuk memotret kondisi terumbu karang, sementara tim lain mengabadikan pesona pariwisata yang marak ditawarkan sejak dua tahun terakhir.

Nama Nusa Penida sendiri sebetulnya merujuk pada satu dari tiga pulau besar yang menjadi kesatuan, dua pulau lainnya bernama Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan.

Mencapai Nusa Penida bukanlah perkara sulit karena layanan kapal feri yang menghubungkan Bali dengan Nusa Penida mudah didapatkan di daerah Sanur. Mereka yang datang menggunakan pesawat terbang bisa menjangkaunya langsung dari Bandara Internasional Ngurah Rai. Dengan tiket seharga Rp 75.000 per orang, pengunjung sudah tiba di tujuan dalam waktu sekitar 1 jam.

Selain dengan Sanur, ada dermaga-dermaga lain yang tersebar di pantai Nusa Penida yang menghubungkan dengan daerah lain, seperti Kabupaten Klungkung. Feri beroperasi sejak pagi hingga matahari tenggelam. Tidak sedikit turis yang sedang menginap di Bali menghabiskan satu hari untuk menyeberang dan pulang sebelum matahari tenggelam.

Kompas/Ferganata Indra Riatmoko

Matahari terbit terlihat dari Desa Ped, Nusa Penida, Klungkung, Bali, Kamis (26/10).

Tidak hanya wisatawan, warga setempat juga memanfaatkan layanan penyeberangan ini untuk beraktivitas dari Bali ke Nusa Penida dan sebaliknya.

Sampai di Nusa Penida, tidak perlu khawatir mencari tempat menginap karena pondokan mudah ditemui dan terus tumbuh. Tim Jelajah Terumbu Karang beberapa kali melintasi tanah yang sedang dibangun menjadi pondok penginapan baru. Meski pulau itu didominasi batu kapur, layanan air bersih dari Kabupaten Klungkung sudah dipergunakan warga atau mereka bisa membuat sumur sendiri.

Jalanan aspal sudah menghubungkan titik-titik penting di Nusa Penida mulai tempat makan, obyek wisata, tempat ibadah, hingga fasilitas penting lainnya, seperti stasiun pengisian bahan bakar. Layanan untuk menyewa mobil berikut pengemudi sudah ada di sana. Pilihan lain adalah menyewa sepeda motor dan bertualang sendiri.

Perawan

”Selama ini Nusa Penida hidup dalam bayang-bayang Bali. Dulu bila menyebut Nusa Penida sebagai asal di Bali akan merasa malu. Untungnya sekarang tidak lagi,” ujar Gusti, warga Nusa Penida yang menjadi pengemudi mobil sewaan membuka percakapan.

Ia menceritakan bahwa obyek wisata di Nusa Penida tidak terungkap oleh khalayak umum karena kalah tersohor dibandingkan Bali dengan industri pariwisata yang sudah matang lengkap dengan hotel berbintang dan agen wisata. Berkat festival wisata yang digelar dua tahun lalu, publik sadar bahwa ada keindahan wisata yang menanti untuk dinikmati di Nusa Penida.

Seperti apa?

Dua jam sejak berangkat dari penginapan, tibalah kami di bibir tebing karang yang terletak di Desa Bungamekar. Nama yang didapatkan tempat itu adalah Pasih Andus atau pantai yang berasap. Ada beberapa kontradiksi dalam nama itu karena yang didatangi bukanlah pantai, melainkan tebing karang dan asap yang dimaksud tidak berasal dari proses pembakaran.

Kompas/Ferganata Indra Riatmoko

Pemandangan pantai Broken Beach di Nusa Penida, Klungkung, Bali, Senin (23/10).

Adalah benturan ombak laut ke tebing karang yang menyipratkan buih-buih air yang menyerupai asap. Munculnya sulit diprediksi dan wisatawan harus berhati-hati saat berfoto bersama karena mereka berjalan di atas karang yang sebagian cukup tajam.

Gusti lalu menggiring kami untuk berpindah tempat, tidak jauh dari sana untuk mendatangi dua obyek wisata sekaligus, yakni Broken Beach serta Angel’s Billabong. Sesuai namanya, Broken Beach memiliki mitos tersendiri, yakni sebuah desa yang dikutuk karena melanggar pantangan sehingga ambles dari tanah. Begitu pula Angel’s Billabong dipercaya sebagai tempat mandi para bidadari.

Berjalan kaki 10 menit dari tempat parkir, Broken Beach sudah bisa ditemui. Benar saja, pemandangannya memang sangat memikat.

Broken Beach merupakan lubang besar di tebing karang sedalam setidaknya 30 meter dengan salah satu sisinya menghadap ke lautan bebas. Sisi tersebut memiliki lubang yang menghubungkan lautan lepas dengan rongga tersebut. Terdapat pasir di dasar lubang, tetapi tidak ada jalan menuju ke sana. Wisatawan mengabadikan momen mereka dengan memotret atau mengambil swafoto.

Wisatawan bisa berendam dan berenang di sana tanpa khawatir terbawa arus laut.

Sementara Angel’s Billabong yang terletak di satu kawasan bisa dijangkau dengan berjalan kaki 5 menit. Tempat ini berupa kolam berlantai karang yang mendapatkan air dari laut saat pasang. Air di kolam itu tenang karena lokasinya tidak bisa dijangkau oleh ombak laut pada jam-jam biasa.

Wisatawan bisa berendam dan berenang di sana tanpa khawatir terbawa arus laut. Hanya saja mereka harus hati-hati dengan bulu babi yang durinya bisa membawa banyak masalah apabila terkena kulit.

Memasuki jam makan siang, Gusti membawa kami ke Pantai Kelingking. Menu yang bisa dipesan di warung-warung yang berada di samping pintu masuk menuju pantai adalah nasi goreng dan kelapa muda. Yang mengejutkan, harga makanan dan minuman di lokasi wisata ini terbilang terjangkau.

Sesuai namanya, Pantai Kelingking diambil dari bentuk punggung bukit yang menjorok ke lautan yang mirip bentuk jari kelingking. Pantainya berada di bawah tebing yang bisa dijangkau dengan menapaki jalanan tanah dengan medan yang cukup menantang.

Kompas/Didit Putra Erlangga Rahardjo

Obyek wisata di Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali, menjual obyek wisata berupa lanskap perbukitan curam di pinggir laut yang memesona, seperti di Pantai Atuh ini, Selasa (24/10).

Infrastruktur minim

Bukan saja curam dan masih minim infrastruktur pengaman, hampir 80 persen dari jalur itu harus dilalui di bawah paparan terik matahari. Dengan demikian, mereka yang sampai di pantai harus kembali setidaknya sesudah atau sebelum tengah hari karena terik panas bisa membuat seseorang kehilangan kesadaran.

Hal itu menjadi pelajaran berharga bagi Maxim, seorang turis dari Yunani yang alpa membawa penutup kepala ataupun persediaan air minum. Dengan susah payah dia berhasil merangkak naik hingga pintu masuk dan duduk terengah-engah untuk mengumpulkan tenaga.

Bagi mereka yang memutuskan untuk bertahan di atas, Pantai Kelingking tetap bisa dinikmati terutama lewat panorama dari formasi karang tebing. Para penggila swafoto bahkan dimanjakan oleh menara khusus dengan pemandangan yang menghampar luas dan cocok untuk mangambil swafoto. Tinggal sodorkan ponsel dan klik!

Di hari kedua, Pantai Atuh menjadi lokasi yang kami tuju sejak pagi hari. Obyek wisata yang terletak di sisi barat Nusa Penida tersebut memiliki daya tarik serupa, yakni panorama menghadap laut dari ketinggian. Bedanya ada pada formasi karang tebing yang khas, sampai orang setempat menjulukinya ”Raja Lima”.

Jika Raja Ampat di Papua belum terjangkau, tempat ini bisa menjadi penawar rasa kecewa.

Kawasan itu dimanfaatkan oleh Rumah Pohon Molenteng, sebuah tempat penginapan berupa rumah panggung bagi wisatawan yang ingin menghabiskan malam sambil menghadap panorama yang memikat mata itu. Infrastruktur menuju lokasi ini relatif lebih baik setidaknya mulai dari tali pengaman hingga pagar pembatas meski juga masih terbatas.

Sesampainya di ujung Raja Lima, sungguh sayang bila tidak mengabadikannya dalam bentuk foto ataupun swafoto. Jika Raja Ampat di Papua belum terjangkau, tempat ini bisa menjadi penawar rasa kecewa.

Obyek wisata selanjutnya yang didatangi sebetulnya berupa tempat ibadah. Goa Giri Putri adalah goa raksasa yang interiornya dipergunakan sebagai pura. Untuk memasukinya, pengunjung harus merangkak melalui celah sempit.

Kompas/Ferganata Indra Riatmoko

Pura Goa Giri Putri di Desa Suana, Nusa Penida, Klungkung, Bali, Selasa (24/10). Tempat ibadah umat Hindu yang berada di dalam goa alam ini juga kerap menjadi tempat tujuan wisata.

Jangan khawatir karena kita akan menjumpai goa raksasa di dalam dengan panjang hingga 262 meter dan terhubung dengan pintu keluar yang ada di ujung lainnya dari bukit kapur.

Di dalam goa ini terdapat fasilitas untuk berdoa serta menyepi. Terdapat pengayah yang tugasnya mendampingi umat atau wisatawan yang hadir. Bau dupa menyengat hidung meski pengayah yang mendampingi berkata bahwa saat tempat ini penuh sesak maka kipas ataupun penyedot udara yang difungsikan di sepanjang goa akan terlihat manfaatnya.

Apabila masih ada waktu, pengunjung juga bisa meluangkan waktu ke Nusa Lembongan. Di tempat itu, destinasi hutan mangrove yang dikelola warga bisa menjadi tujuan. Tempat ini menawarkan perjalanan menyusuri jalur dangkal bagi perahu warga untuk melalui berbagai jenis mangrove di sana.

Kawasan perairannya menawarkan penyelaman dengan sensasi arus serta pertemuan dengan berbagai fauna aneh.

Setelah itu bisa minta diantar untuk melihat proses pembuatan garam secara tradisional yang pernah menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat Lembongan. Menikmati mangrove dan mengunjungi pembuatan garam ini biasanya menjadi satu paket wisata jika menjelajah pulau ini melalui agen wisata.

Di Nusa Penida dan sekitarnya, buat mereka yang memiliki lisensi selam, kawasan perairannya menawarkan penyelaman dengan sensasi arus serta pertemuan dengan berbagai fauna aneh. Saat beruntung, ikan mola-mola setinggi 4 meter bisa dijumpai, terutama saat aliran air dingin dari Australia menggapai Nusa Penida, sekitar bulan Juli hingga Agustus setiap tahun.

Andai pun musim kehadiran mola-mola belum tiba, perairan Nusa Penida menawarkan banyak alternatif lain yang sangat menggairahkan dan tak pernah membosankan bagi penikmat surga bawah air. (DIDIT PUTRA ERLANGGA/HENDRIYO WIDI/HARRY SUSILO/ICHWAN SUSANTO)