Dalam sebuah mal di jantung Jakarta, produk cokelat batang dijual dengan kemasan elegan yang menggugah selera. Namun, siapa sangka cokelat batang itu berbahan baku kakao dari pelosok Papua Barat.

Cokelat produksi Pipiltin Cocoa bertuliskan Ransiki itu sesuai dengan asal bahan baku kakaonya, di Distrik Ransiki, Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat. Tidak hanya untuk produsen cokelat di Jakarta, kakao Ransiki juga diekspor ke Swiss dan Perancis yang dikemas menjadi cokelat batang premium.

KOMPAS/JOHANES GALUH BIMANTARA

Produk cokelat bubuk Ransiki 62 persen dipajang di toko Pipiltin Cocoa di mal Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Selasa (19/10/2021). Produk-produk seperti cokelat batang, cokelat bubuk, dan minuman cokelat dengan label Ransiki dibuat menggunakan biji kakao dari kebun yang dikelola Koperasi Ebier Suth Cokran di Distrik Ransiki, Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat.
KOMPAS/JOHANES GALUH BIMANTARA (JOG)
19-10-2021

Biji kakao berkualitas tinggi ini dipanen dari hamparan kebun seluas 140 hektar. Bukan perusahaan multinasional yang mengelola kebun tersebut, melainkan koperasi bernama Ebier Suth. “Cokelat Ransiki adalah salah satu yang memilii kualitas terbaik,” ujar Koordinator Umum Koperasi Ebier Suth, Abdul Rochim Arkan Sawa Semariai.

Memberdayakan warga

Kakao yang diekspor itu dibudidayakan oleh tangan-tangan terampil tenaga kerja yang sebagian besar asli Papua Barat. Setiap pagi, sebuah truk menjemput para pekerja dari pusat kabupaten Manokwari Selatan, untuk membawa mereka ke dalam areal perkebunan kakao koperasi Ebier Suth. Sebagian besar pekerja merupakan perempuan yang umumnya bertugas memanen biji kakao.

KOMPAS/JOHANES GALUH BIMANTARA

Deli Jofari (42), pekerja kebun kakao yang dikelola Koperasi Ebier Suth Cokran di Distrik Ransiki, Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat, memanen buah kakao yang telah masak, Selasa (20/4/2021). Kakao dari kebun Ebier Suth dikirim ke produsen cokelat premium di dalam dan luar negeri.
KOMPAS/JOHANES GALUH BIMANTARA (JOG)
20-04-2021

Salah satunya adalah Deli Jofari (42) atau Mama Deli, yang biasa memanen kakao dari pohon setinggi 4-5 meter. “Sekarang standarnya dapat 40 kilogram (biji kakao basah per hari), kalau lagi turun 20 (kg),” tutur Mama Deli, saat ditemui, akhir April 2021 silam.

Sebelum bekerja di Koperasi Ebier Suth, Mama Deli sudah akrab dengan perkebunan kakao di sana karena selama belasan tahun hingga awal 2000-an, bekerja di PT Coklat Ransiki (Cokran), yang mengelola kebun kakao tersebut. PT Cokran kemudian tutup karena pailit pada 2006.

Baca juga : Bom Waktu di Lumbung Sagu…

Tutupnya PT Cokran mengakibatkan 600-an karyawan kehilangan pekerjaan Para pekerja kontrak macam Deli akhirnya banting setir ke sumber penghidupan lain.

Selang beberapa tahun produksi kakao vakum, para mantan karyawan PT Cokran bersama Pemerintah Kabupaten Manokwari Selatan merencanakan pengoperasian kembali kebun kakao dengan harapan mengembalikan kejayaan cokelat asli Ransiki. Agar lebih luwes, entitas pengelolaan ditetapkan berbentuk koperasi.

Nama “Ebier Suth” disematkan karena frasa dari bahasa suku Sougb, masyarakat asli Manokwati Selatan, tersebut bermakna “membangkitkan kembali.”

Koperasi Ebier Suth pun didirikan pada tahun 2017, yang mayoritas pekerjanya merupakan mantan karyawan PT Cokran. Nama “Ebier Suth” disematkan karena frasa dari bahasa suku Sougb, masyarakat asli Manokwati Selatan, tersebut bermakna “membangkitkan kembali.”

Menurut Abdul Rochim Arkan, koperasi saat ini baru mampu mempekerjakan 150 orang dengan 80 orang di antaranya bertugas di kebun sedangkan sisanya di pabrik, bagian administasi, serta pekerjaan penunjang lain. Sebanyak 99 persen dari seluruh pegawai merupakan orang asli Papua.

KOMPAS/HARRY SUSILO

Pekerja menjemur biji kakao yang difermentasi di pelataran kantor Koperasi Ebier Suth, di Ransiki, Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat, (20/4/2021). Kakao Ransiki yag diolah Koperasi Ebier Suth dipasok ke sejumlah produsen cokelat dalam negeri dan mancanegara.
KOMPAS/HARRY SUSILO (ILO)
20-04-2021

Kemampuan koperasi menggarap kebun masih minim jika dibandingkan skala operasi PT Cokran. Dari 1.668 hektar kebun kakao warisan perusahaan, koperasi baru mampu memproduksi biji di area seluas 140 hektar. Dari dulunya PT Cokran mampu menyuplai 100 ton biji kering per bulan, kini Ebier Suth baru memproduksi 4 ton biji kering per bulan.

Menjaga kualitas

Meskipun produktivitas belum sebesar dulu, Ebier Suth disiplin menjaga kualitas dan cita rasa biji kakao. Bibit yang hendak ditanam di area baru pun diupayakan dari pohon-pohon lawas. “Jadi, kami sekarang takut kalau ada bibit-bibit dari luar. Jangan sampai mengganggu kakao yang ada di sini,” ujar Abdul Rochim.

Baca juga : Atraksi Parotia di Dataran Tinggi Arfak

Abdul Rochim menegaskan, pupuk kimia “haram” dipakai di kebun kakao baik dari era PT Cokran hingga Koperasi Ebier Suth. Kesuburan tanah ditunjang oleh pohon-pohon kakao itu sendiri. Proses alami yang kemudian menghasilkan produk organik bermutu yang diolah menjadi cokelat berkualitas tinggi.

Semua perjuangan mengawal mutu biji kakao itu membuat Ebier Suth dilirik Biji Kakao Trading Ltd, spesialis penyalur kakao berkualitas dari berbagai daerah di Tanah Air ke produsen-produsen cokelat siap konsumsi di bermacam negara. Lewat Biji Kakao Trading, biji cokelat produksi mereka sudah melanglang buana ke pembuat cokelat di Swiss dan Perancis, meski koperasi baru berusia 3,5 tahun.

KOMPAS/HARRY SUSILO

Pekerja Koperasi Ebier Suth menunjukkan biji kakao yang sudah difermentasi dan dikeringkan di Distrik Ransiki, Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat, Selasa (20/4/2021). Kakao Ransiki mulai diproduksi kembali pada 2017 oleh Koperasi Ebier Suth setelah sempat vakum selama 11 tahun karena produsen sebelumnya, PT Coklat Ransiki tutup.
KOMPAS/HARRY SUSILO (ILO)
20-04-2021

Pipiltin Cocoa, produsen cokelat yang fokus mendayagunakan kekayaan hayati Nusantara, turut mengambil cokelat Ransiki untuk menjadi cokelat batang yang dijual di gerainya, termasuk di mal Grand Indonesia, Jakarta Pusat.

Menurut salah satu pendiri Pipiltin Cocoa, Irvan Helmi, rasa gurih atau rasa umami yang ada pada cokelat Ransiki tidak dimiliki cokelat daerah-daerah lain di Indonesia. “Itu spesialnya Ransiki,” tutur Irvan.

Sejak tahun 2017 hingga Februari 2021, Koperasi Ebier Suth telah mengirim 234,2 ton biji kakao kering ke para pemesan, termasuk Pipiltin Cocoa. Bisnis sejauh ini mendatangkan pemasukan total Rp 7,18 miliar bagi koperasi.

Pekerja Koperasi Ebier Suth sedang mengemas cokelat hasil olahan kakao Ransiki di Distrik Ransiki, Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat, Selasa (20/4/2021). Selain memasok kakao ke sejumlah produsen cokelat, Koperasi Ebier Suth juga memproduksi sendiri beberapa cokelat di pabrik mereka.
KOMPAS/HARRY SUSILO (ILO)
20-04-2021

Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan mengungkapkan, kakao sebagai komoditas nondeforestasi telah ditetapkan sebagai salah satu komoditas unggulan di Papua Barat. Pemprov Papua Barat turut membantu mencari pasar di hilir, memperbaiki rantai pasok, dan membenahi produktivitas di bagian hulu.

Perjalanan memang masih panjang bagi Ebier Suth. Namun, upaya koperasi dengan memberdayakan warga lokal dan menjaga kualitas kakao sudah dalam jalur bagi cokelat Ransiki menuju kebangkitan hakiki. (Johanes Galuh Bimantara)