Sesungguhnya Janes Robby Kiwol (49) adalah seorang guru SMA yang bersahaja. Namun, di balik kesederhanaannya, Kiwol adalah pahlawan bagi petani pala di Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara. Banyak hal dilakukan Kiwol, termasuk propaganda menolak bantuan pupuk organik yang bakal menghancurkan nilai ekonomis pala di daerahnya.

Selama tiga bulan dia keluar masuk desa menjumpai kelompok petani pala hanya untuk mengabarkan soal pupuk yang dipasok dari Manado. Kiwol melakukannya seorang diri.

”Sekiranya waktu itu petani terima dan menggunakannya (pupuk), maka hancurlah seluruh nilai ekonomi pala Siau. Pak bupati memahami tindakan saya. Pupuk bantuan mengandung bahan kimia yang akan merusak komposisi miristisin pala Siau,” kata Bupati Sitaro Tonny Supit membenarkan.

Kehancuran itu pasti memukul petani pala setempat yang sebagian besar hidup dari perkebunan pala. Begitu kadar miristisinnya turun, maka pengimpor pala internasional akan menolak pasokan pala dari Pulau Siau.

Kompas/Riza Fathoni

Ferianto Yacobus (54) tengah memanen pala di Desa Lai, Kecamatan Siau Tengah, Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara, Jumat (2/6).

Kandungan zat miristisin dalam pala Siau cukup tinggi, yakni 13,19 persen, melebihi kandungan miristisin pala Banda, 11 persen. Spesifikasi zat miristisin pala Siau itu juga berbeda dengan pala Tagulandang yang hanya berjarak 48 kilometer dari Pulau Siau. Menurut Kiwol, kandungan zat miristisin membuat pala Siau bernilai tinggi dan dicari pasar internasional.

Penolakan pupuk

Peristiwa penolakan pupuk terjadi tahun 2015 melalui proyek bantuan pupuk dari Dinas Perkebunan Provinsi Sulut. Alhasil, pupuk sebanyak 1,5 ton bernilai miliaran rupiah yang diangkut melalui kapal dibuang petani ke laut.

Sisa pupuk yang tidak digunakan petani juga masih terlihat di sejumlah rumah penduduk. Tumpukan pupuk itu dibiarkan hancur tanpa disentuh oleh petani. Peristiwa itu terjadi ketika Kiwol tengah berjuang agar pala Siau mendapatkan sertifikat indikasi geografis (SIG).

Setelah berupaya keras, Kiwol akhirnya bisa mengantar Pala Siau mendapatkan SIG pada Februari 2016. Berangkat dari perjuangannya itu, Kiwol akhirnya dipercaya menjadi Ketua Lembaga Perlindungan Indigasi Geografis Pala Siau.

Tanaman pala Siau akhirnya menjadi satu-satunya komoditas pala di Indonesia yang mendapat pengakuan indikasi geografis atau tanda yang menunjukkan daerah asal suatu barang yang karena faktor lingkungan geografis memberikan ciri dan kualitas tertentu pada barang yang dihasilkan. Karena itu, pala Siau perlu mendapat perlindungan khusus.

Kompas/Riza Fathoni

Ferianto Yacobus (54) memanen pala di Desa Lai, Kecamatan Siau Tengah, Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara, Jumat (2/6).

Produksi pala Siau rata-rata 2.000-4.000 ton per tahun. Pala Siau menjadi komoditas andalan Indonesia dan menguasai sekitar 60 persen pasar dunia. Pasar tujuan ekspor pala Siau terbesar adalah Eropa, Jepang, Korea Selatan, Vietnam, dan Singapura.

Kiwol mengatakan, lembaganya bertugas memproteksi tanaman pala Siau dari intervensi tanaman pala dari luar. Mereka kerap  melakukan sweeping kapal pengangkut yang sandar di dermaga Ulu Siau untuk memastikan tidak ada pala-pala dari luar masuk ke Pulau Siau.

Pala siau memiliki kekhususan, meliputi aroma dan biji pala yang hampir bulat sempurna tanpa kerut. Aroma pala Siau disebabkan tingginya zat miristisin dibandingkan dengan pala daerah lain.

Otodidak

Kiwol mengaku belajar mengenal pala secara otodidak selama 22 tahun sejak tahun 1995. Lelaki asal Kecamatan Tengah Minahasa Selatan, Sulawesi Utara, itu pindah ke Siau mengikuti istrinya, Tuty Jacobus, yang juga seorang guru. Awalnya Kiwol guru SMA di Manado, kemudian pindah ke Tahuna, Kabupaten Sangihe, dengan profesi sama.

Tujuan awal menanam pala untuk mengisi waktu luang setelah pulang mengajar, Kiwol malah menyatakan ketertarikan dan jatuh cinta ada pala. Ia belajar cara menanam, memelihara, hingga memetik.

Kompas/Jean Rizal Layuck

Janes Robby Kiwol, petani pala di Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro, Sulawesi Utara.

Persoalan hama gangguan pada tanaman pala itu juga dia pelajari. Kerap Kiwol melakukan riset sendiri. Ia melakukan literasi pala dari buku-buku referensi yang dibelinya di Manado.

Dari sini ia kemudian mempelajari arti ekonomis tanaman pala yang menghidupkan 60 persen masyarakat Pulau Siau. Ia merasa risih ketika buah-buah pala yang jatuh ke tanah karena terlambat dipetik dibiarkan saja oleh petani.

Padahal, buah pala berikut daging melekat itu dapat dijual untuk manisan. Kiwol juga menyatakan kekhawatiran atas sikap individual petani setempat membuat petani berjuang seorang diri. Dari sinilah Kiwol kemudian merangkul petani dengan membentuk kelompok tani.

Proyek mubazir

Kini di seluruh Pulau Siau terdapat 60 kelompok petani pala beranggotakan 80-100 petani. Dari kelompok ini, petani dapat melakukan tawar-menawar harga pala ke pedagang pengumpul. Kelompok itu juga bertujuan menaikkan posisi tawar petani kepada pemerintah dan pedagang.

Dari kelompok itulah Kiwol mampu melakukan propaganda, termasuk menolak pupuk bantuan ataupun proyek bantuan bibit pala dari provinsi yang tidak jelas asal-usulnya.

”Biasalah bibit-bibit itu dijadikan proyek. Padahal, banyak proyek yang akhirnya mubazir. Kenapa harus ada bantuan bibit pala lagi kepada kami, sedangkan pala Siau dikenal sebagai pala berkualitas baik,” katanya.

Keberadaan kelompok-kelompok tani itu memudahkan Kiwol untuk merangkul petani demi kepentingan bersama, melakukan konsolidasi tanaman pala, dan memberi informasi penting mengenai harga pala internasional diperoleh melalui internet.

Kompas/Riza Fathoni

Pekerja mengeringkan fuli dan biji pala di gudang pemrosesan pala PT Agripro Tridaya di Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara, Jumat (2/6).

Informasi harga pala internasional itu cukup penting sehingga fuli ataupun biji pala yang dijual tidak terpaut jauh dengan harga dunia. Sebagai contoh, jika harga biji pala sekarang 6 dollar AS setara dengan Rp 78.000 per kilogram, petani menjual pala Rp 65.000 atau Rp 70.000 per kilogram, kelebihan Rp 13.000 biasanya untuk biaya angkut ke pelabuhan terdekat di Bitung.

Dari Bitung, pala juga membutuhkan angkutan ke Surabaya kemudian diekspor melalui Singapura ke Belanda, Vietnam, ataupun Jepang dan Korea Selatan.

Meski telah melakukan proteksi begitu ketat mulai dari pupuk, bibit serta harga, Kiwol menyimpan kekhawatiran dari ancaman hama penggerek batang yang mengancam kelansungan hidup pohon pala. Dia telah mengamati serangan hama itu dalam dua tahun belakangan, dalam 100 pohon terdapat dua hingga tiga pohon yang terserang hama tersebut.

”Jika dibiarkan, hama ini mengancam kehidupan tanaman pala yang menjadi sumber hidup warga Siau,” katanya. Hama penggerek batang melubangi batang bagian atas pohon pala. Akibat batang atas kosong, pohon menjadi lemah sehingga mudah patah jika terkena angin.

Serangan hama secara perlahan menjadi pekerjaan rumah berat kemudian hari. Namun, Kiwol tidak menyerah begitu saja. Bagaimanapun, pohon pala harus diselamatkan bersama petaninya. ”Kali ini kami harus kerja keras lagi demi kejayaan pala Siau,” katanya.

 

Biodata

Nama           : Janes Robby Kiwol

Lahir            : Tenga, Minahasa Selatan, 16 Januari 1968

Alamat         : Desa Dame I, Kecamatan Siau Timur, Kabupaten Sitaro

Nama Istri   :  Dra Tuty Jacobus

Nama Anak : Joshua Kiwol

Pendidikan  : SD RK Tenga (1980)

SMP Negeri I Tenga (1983)

SMA Negeri I Tenga (1986)

Sekolah Tinggi Filsafat Pineleng (1990)

Jabatan        : Ketua Lembaga Perlindungan Indikasi Geografis Pala Siau.