Pulau Siau dikenal sebagai salah satu penghasil pala terbaik di dunia, selain Kepulauan Banda, Maluku. Sejauh mata memandang, terutama ke arah perbukitan dan Gunung Karangetang, terhampar pohon-pohon pala. Tak heran, pala menjadi ikon bagi pulau tersebut.

Pala Siau memang memiliki keistimewaan tersendiri. Dibandingkan pala dari daerah lain di Indonesia, kualitas dan ciri pala Siau berbeda. Saat ini pala Siau merupakan satu-satunya komoditas pala di Indonesia yang sudah mendapat sertifikat indikasi geografis (SIG), yaitu tanda yang menunjukkan daerah asal suatu barang yang karena faktor lingkungan geografis memberikan ciri dan kualitas tertentu pada barang yang dihasilkan.

Keunggulan pala yang terkenal dengan nama internasional Siau Nutmeg antara lain karena aroma dan mutu minyak yang khas sehingga disukai oleh konsumen dalam dan luar negeri. Pala Siau memiliki kandungan minyak terbanyak dibandingkan daerah lain, yaitu 80-100 persen, sedangkan pala daerah lain 50-70 persen. Kandungan minyak asiri pada biji pala Siau mencapai 2,39 persen, sementara kandungan minyak asiri pada fulinya mencapai 17,27 persen.

Kompas/Aloysius B Kurniawan

Biji buah pala yang masih ditempeli selubung jala berwarna merah atau fuli tengah direndam sebelum dipisahkan dari biji, Jumat (2/6), di sebuah gudang di Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara.

Keunggulan lainnya adalah aroma dan biji pala yang hampir bulat sempurna tanpa kerut. Aroma pala Siau disebabkan tingginya zat miristisin dibandingkan dengan pala daerah lain. Zat miristisin biji pala Siau mencapai 13,19 persen, sedangkan pala Banda hanya 11 persen. Kandungan minyak atsiri pada fulinya pun terbilang tinggi, yakni mencapai 30,39 persen.

Kesuburan tanah di Pulau Siau diyakini berkaitan dengan keunggulan pala tersebut. Kesuburan itu tak bisa lepas dari keberadaan Gunung Karangetang yang hingga kini masih aktif menyemburkan material perut bumi. Semburan itu berdampak pada struktur tanah vulkanis yang mengandung fosfor, kalsium, kalium, dan magnesium yang sangat cocok bagi jenis tanaman keras seperti pala. Tidak heran jika produksi pala di sekitar Gunung Karangetang menjadi sangat baik dan menjadi produk pala organik.

Sejarah

Tanaman pala yang kini tumbuh subur di Pulau Siau adalah jenis Myristica fragrans Houtt yang memiliki kualitas dan produktivitas tinggi. Dalam sejarahnya, tanaman pala Siau tidak terlepas dari pala yang tumbuh di Kepulauan Banda, Maluku. Dari sejumlah literatur disebutkan, tanaman pala di Kabupaten Kepulauan Sitaro, termasuk Pulau Siau, masuk melalui hubungan dagang dengan Kerajaan Ternate. Leluhur orang Sitaro dahulu sering berlayar ke Ternate untuk berdagang dan ketika pulang mereka membawa bibit pala.

Kompas/Riza Fathoni

Ikon-ikon buah pala sebagai mata pencaharian utama terpampang di Monumen Sitaro, Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara.

Dalam buku Persyaratan Indikasi Geografis Pala Siau disebutkan, Kerajaan Siau didirikan pada 1510 oleh Raja Lokongbanua II (1510-1549). Pada kurun waktu tertentu, kerajaan ini sempat tunduk dan menjadi bagian wilayah Kesultanan Ternate. Keadaan ini diduga berpengaruh terhadap mobilitas penduduk dari Pulau Siau ke daerah Maluku dan sebaliknya. Bibit tanaman pala menjadi bagian barang yang dibawa ketika pulang dari Ternate dan kemudian ditanam di pulau tersebut. Dalam perkembangnya, pala yang  tumbuh di Siau menghasilkan buah pala yang kualitasnya lebih baik dibandingkan pala tempat asalnya.

Tak heran jika Kerajaan Siau yang terletak di Sulawesi Utara itu dulu juga pernah menjadi rebutan negara-negara Eropa karena rempah-rempahnya. Portugis, Spanyol, dan Belanda pernah saling menyerang untuk memperebutkan hasil rempah-rempah Kerajaan Siau.

Penopang ekonomi

Bagi masyarakat Siau, pala bukan hanya sekedar tanaman, melainkan juga merupakan kebanggaan dan identitas sosial. Orang Siau merasa belum lengkap jika tidak memiliki tanaman pala. Tidak hanya itu, tanaman pala yang telah menjadi warisan ratusan tahun tersebut hingga kini masih menjadi tulang punggung penggerak ekonomi di Siau dan Kabupaten Kepulauan Sitaro. Sekitar 80 persen penduduk dari 65.827 penduduk Kabupaten Kepulauan Sitaro menggantungkan hidupnya dari komoditas pala dan kelapa.

Berdasarkan data Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Kepulauan Sitaro, tanaman perkebunan, terutama pala, cengkeh, dan kelapa, merupakan komoditas utama masyarakat Sitaro. Data statistik menunjukkan kontribusi sektor perkebunan terhadap pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Kepulauan Sitaro relatif dominan.

Tanaman pala memberikan kontribusi terbesar pada pembentukan angka produk domestik regional bruto (PDRB) dibandingkan sektor lainnya. Berdasarkan Statistik Daerah Kabupaten Kepulauan Sitaro 2016, angka PDRB atas dasar harga berlaku Kabupaten Kepulauan Sitaro pada tahun 2014 menunjukkan besaran Rp 1,375 triliun.

Dari sembilan sektor pembangunan, sektor pertanian dengan subsektor perkebunan menjadi sektor yang paling dominan dalam kontribusi terhadap PDRB, yakni 36,04 persen. Angka tersebut merupakan sumbangan terbesar dari komoditas pala, yang secara siginifikan memberikan sumbangan bagi pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sitaro tahun 2014.

Kompas/Riza Fathoni

Aktivitas perdagangan biji pala dipasar di Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara, Jumat (2/6). Pedagang kecil membeli biji pala dan fuli hasil panen warga dalam skala kecil, sementara pengepul besar membeli lebih banyak dalam skala kuintal.

Saat ini areal tanaman pala di Pulau Siau seluas 3.437 hektar, dengan 2.084 hektar areal pertanaman yang telah menghasilkan. Rata-rata produktivitas sekitar 2,5 ton biji pala kering per hektar per tahun dengan total produksi per tahun sekitar 5.210 ton biji pala kering dengan batok.

Berdasarkan catatan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulawesi Utara, ekspor pala dari provinsi itu tiap bulan 1.000-2.000  ton. Ekspor pala dari provinsi itu menyumbang sekitar 75 persen dari total ekspor pala Indonesia. Biji pala provinsi itu terutama dieskpor ke negara-negara di Eropa, seperti Perancis, Belanda, dan Italia serta Vietnam. Sebagian besar biji pala yang diekspor dari Sulawesi Utara berasal dari Kabupaten Sitaro, penghasil pala Siau.

Kendala

Meski terus diminati di pasar internasional, pala Siau dan pala dari daerah lain di Indonesia pada umumnya menghadapi sejumlah kendala. Salah satu kendalanya adalah kelangsungan tanaman pala baik ancaman hama pengerek batang, produktivitas, ataupun peremajaan tanaman pala. Tanaman pala di Pulau Siau umumnya tanaman pala warisan yang sudah berumur ratusan tahun sehingga berdampak pada produktivitasnya yang rendah.

Tak hanya produktivitas, ancaman hama pengerek tanaman pala juga menjadi kendala yang dirasakan petani pala di Siau. Dari 100 pohon ditemukan dua hingga tiga pohon terserang hama tersebut.. Untuk itu, pemerintah daerah perlu mendorong peremajaan tanaman pala dalam menjaga kelangsungan tanaman pala di daerahnya

Selain kelangsungan tanaman pala, petani pala Siau juga terkena dampak akibat notifikasi dari negara tujuan ekspor terutama di Uni Eropa. Penolakan tersebut ditengarai berkaitan dengan kelebihan kandungan aflatoksin yang di atas ambang batas yang bisa ditoleransi. Data Food and Feed Safety Alerts (RASFF) Komisi Eropa menunjukkan peningkatan kasus penolakan untuk ekspor pala dari Indonesia ke negara Uni Eropa. Pada tahun 2011 terdapat tujuh kasus dan sempat turun pada tahun 2012 menjadi tiga kasus. Namun, pada tahun  2013 meningkat kembali menjadi enam kasus, tahun 2014 ada 12 kasus, tahun 2015 terdapat delapan kasus, dan tahun 2016 terdapat 24 kasus.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, sejumlah instansi turun tangan untuk meningkatkan mutu dan kualitas pala Indonesia. Salah satu kerja samanya adalah dengan menggandeng Uni Eropa dalam upaya peningkatan kualitas pala Indonesia melalui Trade Support Programme II pada tahun 2015 dan pala Siau menjadi proyek percontohan pada tahap produksi hingga setelah panen pala. Proyek percontohan ini mengidentifikasi dan menerapkan peningkatan mutu pala secara praktis melalui tahap produksi, pengangkutan, penyimpanan, dan pengiriman sehingga pala Indonesia memenuhi standar internasional yang dipersyaratkan.

Upaya peningkatan mutu pala Siau diharapkan tidak hanya mampu memperbaiki pala di perkebunan, tetapi juga penanganan setelah panen sehingga produk pala Siau diharapkan bisa mengembalikan kejayaan pala Indonesia di pasar dunia. (ANTONIUS PURWANTO/LITBANG KOMPAS)