Awal abad lalu, kolaborasi antara pemerintah dan swasta dalam menyebarkan kopi robusta pernah menyelamatkan hidup komoditas kopi. Kali ini, semangat yang sama masih hidup dan berharap supaya kopi tetap abadi di kepulauan ini.

Buku 100 Tahun Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia 1911-2011 mencatat, kisah robusta bermula dari 150 biji kopi robusta yang dibeli seharga 2 franc dari I’Horticulture Coloniale Brussels, Belgia, pada 30 Juni 1900. Diangkut dengan kapal SS Gendeh milik Rotterdamsche Lloyd dari Pelabuhan Rotterdam, Belanda, biji kopi robusta pertama kali mendarat di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

Hama karat daun yang mematikan banyak kopi arabika saat itu menjadi tiket utama masuk robusta ke bumi Indonesia. Ditanam pertama kali di Kebun Soember Agoeng (tenggara Kota Malang) oleh Tuan Rauws, sekretaris dewan direksi perusahaan perkebunan Cultuur Mij Soember Agoeng, robusta kemudian menyebar ke kebun Wringin Anom dan Kalibakar di Malang.

KOMPAS/ HENDRA A SETYAWAN

Sisi selatan kaki Gunung Semeru yang membentang di kawasan yang dikenal dengan nama ”Amstirdam” (Ampelgading, Sumbermanjing Wetan, Tirtoyudo, Dampit), Kabupaten Malang, Jawa Timur, Selasa (9/1/2018), sebagian besar dimanfaatkan untuk perkebunan kopi. Di kawasan itu kopi dikembangkan di kebun seluas 17.849 hektar jenis robusta dan 1.028 hektar jenis arabika. Adapun jumlah petani kopinya lebih dari 22.000 orang.

Setahun kemudian, giliran Kedirische Landbouw Vereniging (gabungan pengusaha perkebunan di wilayah Kediri) mendatangkan bibit robusta. Kali ini, bibitnya dibagikan kepada 20 maskapai (perusahaan) perkebunan yang menjadi anggotanya.

Pemerintah kolonial Belanda tidak mau kalah. Kira-kira dalam kurun waktu yang sama, 24 bibit kopi robusta dari Brussels, Belgia, juga ditanam di kebun percobaan pemerintah di Bangelan, Malang (lereng Gunung Kawi). Selanjutnya, lewat kolaborasi pemerintah dan swasta, robusta menyebar dan mengakar di sejumlah daerah di Tanah Air.

Puluhan tahun kemudian, bibit-bibit pionir itu tak terlacak lagi keberadaannya. Robusta, sang penyelamat, bahkan akhirnya pernah punya stigma sebagai kopi kelas dua setelah arabika. Padahal, dari produksi 639.305 ton biji beras kopi tahun 2016, sebanyak 70 persen diekspor. Dari total volume ekspor itu, 90 persen merupakan robusta.

Tak sekadar penggembira

Belakangan, kolaborasi antara petani dan pemerintah muncul lagi. Robusta tak ingin sekadar jadi penggembira.

Di Malang, Dampit bertahan jadi salah sentra robusta di Malang. Pemerintah Kabupaten Malang ikut mengangkat popularitasnya lewat brand Amstirdam (Ampelgading, Sumbermanjing Wetan, Tirtoyudo, dan Dampit, yang merupakan nama kecamatan penghasil kopi di Malang Selatan). Di wilayah itu ditanam kopi robusta pada lahan seluas 17.849 hektar dan arabika pada lahan seluas 1.028 hektar, dengan total 22.000 petani kopi.

KOMPAS/ HENDRA A SETYAWAN

Aktivitas penyortiran biji kopi robusta di pabrik milik PT Asal Jaya, Dampit, Malang, Jawa Timur, Rabu (10/1/2018). PT Asal Jaya adalah salah satu eksportir kopi terbesar di Jawa Timur.

Khusus untuk robusta, setiap tahun terdapat 43.000 ton biji asal Dampit yang diekspor menuju 42 negara di dunia.

Setali tiga uang, Pemprov Bali kini melirik kopi robusta yang ditanam di lahan seluas 23.180 hektar dengan produksi 13.121 ton per tahun (2015). Sebanyak 57.356 petani kopi Bali kini bergantung hidupnya pada robusta.

Salah satu yang jadi tumpuan adalah kopi robusta Pupuan asal Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan. Pada Desember 2017, Pupuan dibantu pemerintah untuk dapat mengantongi sertifikasi indikasi geografis. Status itu ikut memuluskan pengiriman kopi Pupuan ke Korea Selatan, Italia, Belgia, dan Taiwan.

Akan tetapi, pemerintah jelas tak berjalan sendirian. Peran petani hebat ada di balik kisah sukses itu. Petani di Pupuan juga punya metode andalan. Ketua Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis Pupuan I Wayan Dira mengatakan, pola penanamannya menggunakan sistem subak abian. Metode subak abian diperuntukkan bagi lahan perkebunan. Polanya mirip dengan subak untuk persawahan yang menekankan pembagian air yang adil hingga tingginya rasa berbagi ilmu antarpetani, seperti petik merah dan perbaikan pascapanen.

Dira mengatakan, satu subak abian rata-rata terdiri atas 800-850 petani kopi. Setiap petani memiliki lahan kopi sekitar 1 hektar, dengan produksi 1-2 ton per hektar. Hasilnya memuaskan. Rasa cokelat, karamel, kacang, rempah, dan sereal jadi ciri khas Pupuan lebih terasa. Uji cita rasanya mencapai 83,20.

“Semuanya meningkatkan harga jual. Dari sebelumnya kopi asalan dijual Rp 27.000 per kg, kini kopi berkualitas dihargai Rp 34.000-Rp 35.000 per kg. Pemerintah ikut membantu kami lewat promosi di ajang nasional dan internasional. Kolaborasi ini berbuah manis,” ujar Dira.

Tahan hama

Di Sulawesi Selatan, robusta juga tetap dipertahankan. Mulai dari rumah warga hingga perayaan upacara besar masyarakat setempat disajikan kopi robusta.

Di kalangan petani kopi Toraja dan sekitarnya, varietas robusta mereka kenal dengan nama kopi Belanda. Ini karena kopi robusta dibawa oleh Belanda ketika  merebaknya serangan karat daun. Tumbuh di ketinggian rata-rata lebih dari 1.000 meter, robusta Toraja terbilang berkualitas.

KOMPAS/AGUS SUSANTO

Tanaman kopi tumbuh subur di sekitar kuburan batu di kompleks pemakaman Lo’ko Mata di Lembang Tonga Riu, Lo’ko Mata, di Kecamatan Sesean Suloara’, Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan, Sabtu (20/1/2018).

”Sejak serangan itu, sebagian areal kebun kopi mulai ditanami robusta. Selain lebih tahan hama, pemeliharaannya lebih mudah. Ini yang kemudian membuat banyak warga akhirnya menanam robusta,” kata Sutarjo Barrang, salah satu penyuluh pertanian di Dinas Pertanian Enrekang.

Tahun 2016, berdasarkan data Pemprov Sulsel, luas areal kopi robusta mencapai 22.945 hektar, sedangkan kopi arabika mencapai 47.615 hektar. Adapun produksinya mencapai 9.559 ton.

Menurut Sutarjo, kopi robusta Toraja memiliki cita rasa agak lembut, tetapi aromanya tidak terlalu harum. Kendati arabika tengah naik daun, kopi robusta dari Enrekang bukannya tidak punya penggemar. Di Pasar Rantepao, Toraja Utara, lapak-lapak penjualan kopi robusta sangat mudah ditemukan. Biji dan bubuk diletakkan dalam baskom plastik, kotak kayu, dan dikemas sederhana dalam kantong plastik.  Di pasar itu, setengah liter kopi jenis robusta (bubuk dan biji) dibanderol Rp 10.000.

Begitu pula di Pasar Makale, Tana Toraja. Kopi yang dijual merupakan campuran arabika dan robusta. Kopi ini disangrai terlalu lama (dark level) dan cenderung over-roast. Bahkan, di beberapa penjual, biji kopi tersebut masih dicampur jagung. Selain itu, banyak yang dijual sudah dalam bentuk bubuk dengan penyimpanan terbuka. Kebanyakan kopi dijual dalam skala literan.

Menu wajib

Menurut Sulaiman Miting, pegiat kopi di Toraja, hampir seluruh kopi yang dinikmati warga Toraja dan sekitarnya adalah varietas robusta. Ini karena jenis arabika diprioritaskan untuk dijual ke perusahaan karena harganya lebih tinggi.

Kopi robusta menjadi menu wajib yang selalu ada dalam setiap acara adat Toraja, antara lain rambu solo. “Walau punya kopi arabika berkualitas dunia, warga Toraja lebih mengenal kopi robusta yang pahit. Ini karena lebih sesuai dengan lidah mereka,” ucapnya.

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO

Warga menuntun kerbau yang akan disembelih dalam upacara pemakaman (rambu solo) di Buntao, Toraja Utara, Sulawesi Selatan, Jumat (29/12/2017). Bagi masyarakat Toraja, kerbau tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga memiliki peran penting dalam upacara adat.

Malang, tempat robusta pertama kali ditanam, kini juga bergerak cepat. Puing kejayaan masa lalu dibangun kembali. Salah satunya dilakukan Asosiasi Petani Kopi Sridonoretno yang beranggotakan sekitar 500 petani dari tiga desa, Srimulyo, Sukodono, dan Baturetno, di tenggara Malang.

Ketua Koperasi Sridonoretno Herianto Jengger mengatakan, kelompoknya punya ciri khas, yakni menerapkan praktik budidaya dan pengolahan kopi dengan baik. Metodenya adalah mengurangi penggunaan pupuk kimia, hanya petik merah, dan tidak menjemur kopi di lantai tanah.

“Hasil panennya bisa laku Rp 46.500 per kg, dua kali lebih mahal dari kopi asalan. Lewat koperasi, kami sudah menjualnya ke 88 jaringan kedai di Jawa dan Bali. Kebutuhannya mencapai 50 ton per bulan,” katanya.

Namun, lanjut Herianto, satu hal yang menjadi pekerjaan rumah bersama adalah mengatasi ketergantungan keuangan petani kopi pada tengkulak. “Banyak petani masih terjerat utang ke tengkulak. Akibatnya, mereka terpaksa menjual kopi dengan harga sesuai keinginan tengkulak,” ujarnya.

Padahal, kata Herianto, para petani tersebut tertarik untuk mengolah kopi dengan baik guna mendapatkan harga yang baik pula. “Saya berharap, dengan koperasi nantinya bisa menjawab kebutuhan modal petani,” katanya. (VIO/COK/DIA/NIT/CHE/GRE/REN)