Ketekunan Wildan Mustofa (50) pada kopi berbuah banyak hal baik. Dalam tujuh tahun terakhir, Wildan dan kebun kopinya ikut memulihkan lingkungan dan senyum manusia di sekitarnya.

Suasana kebun dan pengolahan kopi Java Frinsa Estate di Desa Margamulya, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, itu terlihat sepi. Jam kerja sudah berakhir sejak pukul 15.00. Para pekerja sudah pulang ke rumahnya masing-masing.

Akan tetapi, bagi Wildan, hari itu belum usai. Bersama istri dan sejumlah asisten, ia masih menggelar rapat mematangkan rencana ekspor kopi tahun ini.

“Targetnya sebelum lebaran, tahap satu ekspor ke Jepang sebanyak satu kontainer,” kata Wildan.

Wildan optimistis kopi akan semakin cerah. Tahun ini, seiring dukungan perbankan yang makin bagus, mitra bisnis makin banyak, produksi kopi pun semakin ideal. Salah seorang nasabah Bank Rakyat Indonesia ini punya tiga kebun di Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat.

Di Ciwidey, Kabupaten Bandung, luas lahan mencapai 10 hektar, di Margamulya (20 ha), dan Weninggalih, Kecamatan Sindangkerta, Bandung Barat mencapai (30 ha). Produksinya mencapai 18 ton per tahun.

“Sejak tahun 2016, biji kopi dari kebun – kebun itu sudah melanglangbuana ke berbagai negara,” katanya.

KOMPAS/SAMUEL OKTORA

Wildan Mustofa , petani dan pengusaha kopi di Desa Margamulya, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Minggu (20/5/2018).

Wildan belum lama terjun di kebun kopi, baru tujuh tahun terakhir. Penanaman pertamanya di sekitar Gunung Malabar, Desa Margamulya. Sebagian di antaranya ditanam di lahan Perhutani. Pilihannya pada kopi tak melulu seputar rupiah.

Dia prihatin dengan kerusakan lingkungan di sekitar Daerah Aliran Sungai Citarum. Banjir dan longsor mudah terjadi. Beberapa penyebabnya seperti hulu sungai yang habis ditebang hingga penanaman sayur tanpa metode yang tepat. Dia yakin, kopi yang ditanamnya di kawasan hulu Citarum bisa ikut memulihkan kualitas lingkungan di sana.

Akan tetapi, berasal dari keluarga petani kentang membuat tantangan menanam kopi yang tengah naik daun saat itu menjadi lebih sulit. Pengetahuannya minim saat itu. Dia bukan pedagang, pun bukan peminum kopi.

“Kopi yang ditanam pertama ini mati semua. Banyak faktor akibat kegagalan saat itu, di antaranya kualitas bibit yang kurang cocok dan lokasinya yang terlalu tinggi. Ketika itu lalu diputuskan sejumlah tanaman kopi diganti teh, dan penanaman dialihkan ke Weninggalih,” ujar Wildan.

Dikenal

Gayung bersambut, diantara usahanya, Wildan ditawari Kedutaan Besar Belanda untuk mengajukan proposal bisnis ke Programma Uitzending Managers (PUM) Netherlands Senior Experts. PUM adalah perusahaan konsultasi dari Belanda yang memberikan bantuan pendampingan kepada usaha kecil menengah secara sukarela.

Wildan memilih kopi. Proposal itu disetujui. PUM lantas mengirimkan ahli agronomi kopi ke Pengalengan, Bandung. Wildan mendapat supervisi terkait industri hilir kopi, tentang pengolahan pascapanen hingga pemasaran.

“Saya lantas mengumpulkan jenis kopi dari sejumlah tempat di Jabar, mulai dari Pangelengan, Garut, Lembang, Bandung Barat, hingga Cianjur untuk diuji,” katanya.

Dari uji cita rasa atau cupping oleh ahli dari PUM, kopi Jabar ternyata berkualitas tinggi. Nilainya diatas 80 atau masuk kategori spesial. Dia semakin yakin, kopi Jabar punya potensi dikembangkan.

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO

Lahan perkebunan kopi di Jawa Barat, Sabtu (27/1/2018).

“Saya memilih fokus awal di orientasi penanaman. Bila ingin mendapatkan kopi terbaik yang pertama harus diawali dari penanaman,” katanya.

Dia lantas kembali bergerilya. Wildan mencari berbagai jenis varietas unggul dari sejumlah daerah di Indonesia. Dia mendatangi Aceh, Sumatra Utara, Jawa Timur, Bali, Sulawesi Selatan, hingga Nusa Tenggara Timur.

“Dari Aceh ada Gayo 1, Gayo 2 dari Aceh. Sigararutang dari Sumatera Utara. Saat ditanam, bibitnya tumbuh bagus. Karakternya menyesuaikan dengan geografis di Jabar,” katanya.

Kali ini kopinya tumbuh ideal. Mulai panen tahun 2014, namanya semakin dikenal saat kopinya jadi salah satu yang terjual tinggi dalam lelang kopi Specialty Coffee Association of America Expo (SCAA) di Amerika tahun 2016. Kopi dari kebun Sindangkerta dan Pangalengan menempati urutan kedua dan ke-17. Tahun ini, kopinya mendapat Medali Perunggu di kompetisi Australian Internasional Coffee Awards Kategori Immersion, Blend dan Cappucino Milk di Melbourne, Australia.

“Hasil kompetisi itu menunjukan kualitas produk yang bagus dan konsisten. Keberadaan juri internasional juga baik untuk pasar. Kini semakin banyak kopi dari kebun kopi kami dipakai di kafe-kafe sejumlah negara Eropa, di antaranya Norwegia, Australia, Inggris, Finlandia, juga Spanyol,” ucapnya.

Harga kopinya pun semakin membaik. Kini mencapai lebih dari Rp 70.000 per kg. Hal ini tentu saja meningkatkan kesejahteraan bagi petani. Namun, Wildan tetap pada visinya meski namanya naik daun. Dia tidak ingin serakah. Penanaman kopi harus tetap memerhatikan kualitas lingkungan.

Kopi Bahagia

Dia tak membabi buta menanam kopi unggulan. Pohon besar misalnya, tidak ditebang tapi dijadikan naungan bagi kopi. Semak-semak tidak dibakar, sehingga ranting dan dedaunan yang jatuh ke tanah mampu menutup kesempatan tumbuhnya rumput. Kondisi ini membuat petani tak butuh herbisida untuk membasmi rumput liar. Selain itu, di lahan miring, dia menanam kopi lebih rapat. Tujuannya melindungi tebing dari longsor.

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO

Proses pengeringan biji kopi di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Sabtu (27/1/2018).

“Hasilnya perlahan membuat bahagia. Di kebun Weninggalih muncul mata-mata air baru. Selain itu erosi juga makin berkurang, bahkan seperti bulan Februari lalu ketika terjadi cuaca buruk, tanaman kopi tidak tumbang, akarnya kuat,” kata Wildan.

Tidak hanya ramah lingkungan, kopi juga mengembalikan senyuman warga. Kopi jadi salah satu pilihan petani bertahan hidup di kampung halaman. Saat ini, ia dibantu 50 petani di tiga kebunnya, juga sejumlah mitra kelompok tani di luar kebun miliknya.

“Sebelumnya banyak warga di sekitar kopi merantau karena minim pilihan kerja. Banyak warga bekerja di pusat kota besar sebagai buruh bangunan dengan penghasilan sedikit,” katanya.

Hamim (46), salah seorang pekerja di kebun Wildan sekaligus warga Weninggalih, Sindangkerta, mengatakan kopi ikut merubah hidupnya. Dia tak perlu lagi merantau ke ibukota jadi buruh bangunan dengan bayaran Rp 30.000 per hari. Tak setiap hari ia bisa mendapat pekerjaan. Dari ikut memelihara kopi, dia kini dibayar hingga Rp 3 juta saat panen tiba.

“Dulu kampung ini sepi. Banyak warga pergi ke kota cari kerja. Akibatnya, anatar kami jadi tidak akrab. Sekarang, setelah ada kebun Pak Wildan, kami bisa berusaha di kampung sendiri. Kopi beri kami pilihan hidup,” kata dia.

Di tangan Wildan, kopi terenak tak sekedar sempurna aroma dan ketebalan rasanya. Senyum manusia di sekitarnya membuat kopi terasa lebih sempurna. (SAMUEL OKTORA)

 

Biodata

Nama    :  Wildan Mustofa

Tempat, tanggal lahir : Bandung, 24 Desember 1967

Pendidikan  :

– Magister Manajemen, Universitas Padjadjaran, Bandung 2000-2004

– Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Institus Pertanian Bogor 1987-1994