Tren membangun bisnis kopi kini tak semata menjual biji dan bubuk. Mengolah kopi untuk menyelamatkan lingkungan dilakoni Danurfan (32), pemilik usaha Leuser Coffee di Banda Aceh.

Ia pun melibatkan seluruh pelanggan kopinya ikut serta menyelamatkan Leuser, ekosistem hutan terluas di Aceh.

Kecintaan Danurfan akan Leuser tumbuh sewaktu bekerja di sebuah organisasi nirlaba bidang lingkungan, lima tahun silam. Salah satu program yang dikembangkan berupa pendampingan petani menjalankan budidaya kopi secara agroforestri.

Penanaman kopi yang menyatu dengan beragam tanaman kehutanan dinilai efektif meningkatkan kualitas kopi, sekaligus menjaga kelestarian alam.

Namun, proyek konservasi itu tak berjalan lama. Tiga tahun setelah itu, proyek berakhir. Lembaga nirlaba tersebut mengakhiri program kerjanya di Aceh.

Meski program berakhir, Danurfan masih cinta pada kegiatan itu. Begitu pula para petani yang pernah ia berdayakan masih memerlukan pendampingan. Danurfan berinisiatif melanjutkan sendiri dengan membuka kewirausahaan pengolahan bubuk dan biji kopi.

KOMPAS/PRIYOMBODO

Danurfan, Pemilik Leuser Coffee

Ia bermitra dengan petani yang dibinanya. Hasil kopi mereka dibelinya dengan harga premium. Sebagai contoh, ketika harga pasaran biji kopi (greenbean) arabika bernilai Rp 70.000 per kilogram, Danurfan membayar kepada petani mitranya Rp 80.000.

Ada selisih Rp 10.000 yang ia sebut insentif dan penghargaan bagi petani yang menjalankan praktik budidaya kopi yang aman bagi lingkungan dan mengolah kopi dengan baik.

Ia sendiri yang menyangrai kopi bercita rasa unik.

Petani dibinanya pula menjadi mahir mengolah beragam jenis kopi berharga premium dan spesialti, mulai dari cara natural hingga yang beraroma anggur alias winey.

Setelah memastikan biji kopi yang dihasilkan petani berkualitas baik, Danurfan menyempurnakannya pada pengolahan hilir. Ia sendiri yang menyangrai kopi bercita rasa unik.

Selain menjual biji dan bubuk kopi, Danurfan juga menyediakan berbagai hidangan minuman kopi tersebut di kedai miliknya, Leuser Coffee, di Jalan Panglima Nyak Makam, Ulee Kareng, Banda Aceh.

Saat Kompas singgah di kedainya pada Desember lalu, Danurfan menyuguhkan hasil seduhannya sendiri: kopi winey, kopi madu, dan minuman kopi bourbon.

Kopi winey saat dihirup langsung terasa khas, yakni aroma minuman anggur hitam. Namun, sewaktu dicicipi rasanya begitu lembut, seperti buah asam tamarin.

Adapun kopi madu beda lagi cita rasanya. Kopi arabika berlevel sangrai ”light to medium” diseduh bersama madu hutan Leuser, lalu disimpan dalam lemari pendingin.

Hasilnya adalah cita rasa kopi baru yang tak kalah unik karena ringan dan lembut dibandingkan kopi biasanya, menyatu dengan manisnya madu.

Danurfan menyangrai sendiri kopi. Mesin sangrai ia pinjam dari sang kakak yang juga membuka usaha sangrai di Banda Aceh. Hasil biji kopi sangrai dan bubuk kopi dikemas dengan merek ”Leuser”.

Pesan kampanye

Pada setiap bungkus kopinya, Danurfan menyematkan pesan kampanye pelestarian. Pesan itu tertulis pada bagian bawah kanan kemasan, berbunyi ”Leuser Coffee ikut membantu kelestarian hutan dan lingkungan Aceh melalui penanaman pohon dan kampanye lingkungan. Setiap pembelian Leuser Coffee, Anda telah berkontribusi untuk usaha pelestarian hutan dan lingkungan di Aceh”.

KOMPAS/PRIYOMBODO

Bentuk kemasan kopi dari Leuser Coffee yang bergambar hewan-hewan yang dikonservasi. Leuser Coffe merupakan kedai kopi yang menyisihkan Rp 2.500 dari setiap bungkus penjualan kopi untuk kepentingan konservasi alam dan lingkungan di Aceh.

Pesan ini rupanya menarik orang untuk membeli. Apalagi, Danurfan menabalkan Leuser sebagai merek kopinya. Empat satwa endemik penghuni Leuser juga mengisi sampul depan bungkus kopi. Mereka adalah gajah sumatera, orangutan, harimau sumatera, dan badak sumatera.

Menurut dia, nama Leuser sebagai merek kopi serta gambar satwa pada kemasan bertujuan mengampanyekan konservasi Kawasan Ekosistem Leuser (KEL). ”Saya ingin mengajak orang terlibat dalam gerakan melindungi satwa yang terancam punah itu,” ujarnya.

Saat ini, penjualan kopi Leuser, baik bubuk maupun biji sangrai, mencapai 400 kg hingga 500 kg per bulan.

Lalu, bagaimana pembeli berkontribusi dalam pelestarian alam yang dimaksud? Ia menjelaskan, hasil pembelian dari setiap bungkus kopi (kapasitas tiap bungkus 250 gram) disisihkan Rp 2.500 ke sebuah kas khusus. Sejak 2015, dana yang terkumpul rata-rata Rp 1,5 juta per bulan.

Tabungan dari hasil donasi itu dimanfaatkan untuk menanam pohon di KEL yang tersebar mulai dari Kabupaten Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Aceh Singkil, Aceh Tamiang, Aceh Tengah, Aceh Tenggara, Aceh Timur, Aceh Utara, Bener Meriah, Gayo Lues, hingga Nagan Raya.

Sebagian lagi dialokasikan untuk penanaman pohon di sekolah-sekolah, dengan tujuan menumbuhkan kesadaran anak muda untuk ikut merawat lingkungan. Dana itu juga digunakan untuk mendukung kelompok-kelompok pencinta dan pelestari alam di kampus-kampus.

Kawasan hutan tropis terbesar di Asia Tenggara ini kini memang dalam kondisi bahaya. Status konservasinya kian turun sejak tahun 2011.

KOMPAS/ADRIAN FAJRIANSYAH

Kawasan hutan yang menjadi bagian dari Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) di Trumon, Kabupaten Aceh Selatan, Selasa (17/3/2015). Wilayah Aceh Selatan sekitar 70 persen berupa hutan. Kawasan itu sekitar 40 persen menjadi bagian dari TNGL. Adapun TNGL menjadi sumber air utama dan tempat tinggal sejumlah flora dan fauna endemik di Aceh. Namun, keberadaannya kian terancam oleh pembalakan liar. Pemerintah diharapkan berperan aktif menjaga kelestarian hutan tersebut demi keberlanjutan kehidupan masyarakat serta flora dan fauna di sana.

Sidang Komite Warisan Dunia pun menyatakan status terancam pada warisan alam dunia tersebut. Sebabnya adalah pembalakan liar, perburuan satwa, dan perluasan lahan kelapa sawit.

Kerusakan KEL, ujar Danurfan, tidak hanya mengancam satwa, tetapi juga keberlangsungan hidup manusia. Bencana hidrologi meningkat dengan makin seringnya terjadi banjir, longsor, dan kekeringan.

Tahun lalu, dari tabungan donasi kopi konservasi itu, Danurfan menanam ratusan batang lemon di kawasan Leuser wilayah Aceh Timur dan di Daerah Aliran Sungai Peusangan, Kabupaten Bireuen. Kawasan itu pernah begitu rawan konflik antara gajah dan manusia.

Gajah tak menyukai lemon sehingga cocok ditanam di sepanjang pelintasan gajah.

Setelah kawasan tersebut ditanami lemon, ternyata konflik manusia dan satwa liar mereda. Setelah diteliti, timnya mendapati bahwa ternyata gajah tak suka mengganggu jenis tanaman lemon.

Kondisinya jauh berbeda jika masyarakat menanam sawit. Gajah biasanya akan mengobrak-abriknya dan bahkan mencabut tanaman hingga akar.

Hasil lemon pun kini mulai dinikmati petani. ”Tanaman lemon di Aceh Timur mulai berbuah. Gajah tak menyukai lemon sehingga cocok ditanam di sepanjang pelintasan gajah,” ucapnya.

KOMPAS/PRIYOMBODO

Suasana di Leuser Coffee yang terletak di Jalan T Panglima Nyak Makam, Kota Banda Aceh, Rabu (20/12/2017) malam. Kedai kopi serupa yang menyajikan kopi ”kekinian” tumbuh subur di Banda Aceh. Leuser Coffe merupakan kedai kopi yang menyisihkan Rp 2.500 dari setiap bungkus penjualan kopi untuk kepentingan konservasi alam dan lingkungan di Aceh.

Untuk tahun 2018, ia merencanakan penanaman bibit lemon lagi di Dusun Kedah, Desa Pena Sepakat, Kecamatan Blangjerango, Kabupaten Gayo Lues. Kedah merupakan pintu masuk pendakian ke puncak Leuser.

Kali ini, penanaman lemon akan sejalan dengan konsep pariwisata. Kedah memang kerap dikunjungi wisatawan yang ingin menyaksikan keindahan hutan Leuser. Ia pun menawarkan bibit pohon bagi warga dan pelaku wisata yang ingin menanami kawasan itu.

”Warga di sana menginginkan Kedah berkembang menjadi kawasan ekowisata. Kami akan menyumbang bibit pohon, sedangkan yang menanam dan merawatnya warga,” lanjutnya.

Bagi Danurfan, langkah kecil itu turut melakukan perubahan besar. Menjaga kelestarian hutan sama halnya menyelamatkan kehidupan manusia. Bisnis kopi berbungkus konservasi, mengapa tidak? (ZULKARNAINI/IRMA TAMBUNAN)