Warga Kampung Modio, Distrik Mapia Tengah, Kabupaten Dogiyai, Papua, harus memikul hasil kebun yang akan dijual ke pasar melewati hutan dan menyusuri sungai untuk mencapai jembatan gantung Sungai Mapia, Minggu (25/3/2018). Jembatan permanen yang menjadi penghubung desa-desa tersebut sampai kini hanya berupa fondasi di kedua sisi sungai.

Jika ada cara untuk mengubah rasa kopi dari pahit menjadi manis, cerita adalah salah satunya. Jauh di pedalaman, sekelompok komunitas rela menempuh beratnya medan untuk mengangkat nasib warga lokal.

Setiap kali menjual kopi, warga di pedalaman Modio, Distrik Mapia Tengah, Kabupaten Dogiyai, Papua, harus berjibaku dengan buruknya jalur transportasi. Jalan panjang harus mereka tempuh agar bisa sampai di kota.

Saat panen kopi, mereka akan menjual kopi ke kota. Kopi dimasukkan ke noken dan mereka berjalan bertelanjang kaki menyusuri jalan berbatu seharian. Beberapa mama kadang membawa serta anak mereka di perjalanan. Anak disunggi bersama noken berisi kopi. Ubi atau nota rebus dibawa sebagai bekal di jalan.

Perjalanannya tak mudah. Terkadang mereka harus mendaki menuruni bukit berbatu, menyeberangi Sungai Mapia yang berarus deras, dan menyusuri hutan.

Alat transportasi satu-satunya hanya ojek, tetapi tak selalu ada dan berbiaya tinggi. Ongkosnya mencapai Rp 50.000 sekali jalan. Ojek pun hanya mengantar sampai di tepi Sungai Mapia. Jembatan yang ada hanya bisa dilewati pejalan kaki, itu pun harus memutar menyusuri hutan tepian sungai. Sesampainya di seberang, warga masih harus menunggu angkutan kota dengan biaya Rp 50.000 sekali jalan.

Masyarakat yang tinggal di Kampung Modio, Distrik Mapia Tengah, Kabupaten Dogiyai, Papua, melewati hutan dan menyusuri sungai untuk mencapai jembatan gantung di atas Sungai Mapia, Minggu (25/3/2018).

Sulitnya akses di pedalaman Papua dirasakan betul oleh Sesilius Kedeikoto, pekebun dari Modio. Dulu, setiap kali panen, ia harus ke kota untuk menjualnya. Ia bisa saja memilih ojek, tetapi ia harus membawa panen dalam jumlah banyak agar ongkos transportasi bisa seimbang dengan uang yang ia hasilkan. ”Kalau hanya panen sedikit, saya bawa saja. Su biasa jalan,” kata Sesilius.

Bagi warga pedalaman, mengeluarkan uang Rp 200.000 sekali jalan untuk menjual kopi sangatlah berat. Dulu, saat kopi berharga Rp 35.000 per kg greenbean, sedikit warga yang mau memanen, apalagi menjual ke kota.

Sesilius beruntung kini kopinya ditampung Pater Biru Kira Pr. Ia tinggal menyetor ke Modio, tempat Pater tinggal. Pater Kira akan membeli kopinya tanpa harus ke kota. Kopi warga dihargai tinggi, Rp 50.000-Rp 70.000 per kg biji beras kopi (greenbean). Ia pun tak perlu kehilangan ongkos transportasi.

Kopi-kopi itu kemudian diolah dan dikemas oleh Kira. Dialah yang menggantikan warga menempuh medan berat menuju kota untuk menjual kopi dalam bentuk jadi.

Di Bomomani, Dogiyai, para pater lebih dulu memulai gerakan itu. Mereka membeli kopi dari petani sejak 2008.

Pater Johan Ferdinand Wijshijer, pastor pertama yang bertugas di Bomomani, tergerak membeli kopi petani karena melihat banyak kebun kopi tak digarap. Kebun telantar karena petani tak punya akses pasar.

”Dulu, harga kopi sangat rendah, sekitar 15.000 per kg (biji beras). Kami coba membeli dan membantu pemasarannya walau saat itu sulit karena akses belum terbuka,” ujar Ferdinand.

Saat itu, jalur Trans-Nabire hingga Dogiai belum mulus. Untuk menuju Bomomani dari Nabire, butuh dua hari berkendara gardan ganda. Ketika musim hujan, kendaraan penuh lumpur.

Hingga kini, kopi yang dibawa petani pun selalu dibeli bagaimanapun kondisinya. Pernah kopi-kopi itu menyita kas mereka dan para pater memilih memakai uang sendiri untuk membeli.

”Ada kegembiraan di hati kami ketika melihat mereka bisa pulang membawa uang dari hasil kebun kopi. Uang itu katanya untuk sekolah anak. Jadi, sampai sekarang, punya modal atau tidak, kopi tetap kami beli,” kata Romo Reynaldo Antoni Haryanto Pr, pastor di Paroki Maria Menerima Kabar Gembira, Bomomani, Papua.

Ada kegembiraan di hati kami ketika melihat mereka bisa pulang membawa uang dari hasil kebun kopi. Uang itu katanya untuk sekolah anak. Jadi, sampai sekarang, punya modal atau tidak, kopi tetap kami beli.

Sederhana

Kopi yang dibeli pun diolah. Jangan bayangkan penyangraian kopi berstandar kafe-kafe besar di Jakarta. Reynaldo menyangrai kopi dengan sumber api dari tenaga diesel. Suara mesin yang keras sering kali mengalahkan bunyi ”krek” rekahan biji kopi yang telah masak. Sangrai kopi pun kerap tertunda jika mesin diesel rusak.

Proses pendinginan biji kopi setelah disangrai di Pastoran Bomomani, Kabupaten Dogiyai, Papua, Minggu (25/3/2018). Masyarakat, selain menjual kopi hasil kebun mereka ke beberapa pengepul, juga menjual kopi kepada pihak gereja.

Kopi olahan itu diberi nama Mamo (Mapia Mountain). Kopi yang ditanam di Pegunungan Mapia merupakan varietas langka, typika. Kopi ini merupakan kopi organik karena warga benar-benar merawatnya secara alami.

Dari hasil penjualan kopi, mereka bisa menyuplai bantuan bibit tanaman, mengoperasikan pembangkit listrik tenaga air untuk warga sekitar, hingga memenuhi kebutuhan hidup dan pendidikan anak-anak petani. Tahun ini ada tujuh anak petani tak mampu yang ditampung di Asrama Bomomani. Hitungan bisnis benar-benar tak bisa diterapkan dalam perdagangan kopi di sini.

Inisiatif membantu petani pun dilakukan Deni, pilot yang bertugas hingga pedalaman Papua. Ia memotong rantai distribusi dengan membawa langsung hasil kopi petani kepada pemilik kedai di sejumlah kota.

Ia masih ingat, rasanya setengah mati memanggul sekarung kopi hasil panen dari kebun sendiri di Kabupaten Lanny Jaya. Akses jalan masih sulit. Jalan kaki ditempuh 95 km menuju Wamena, ibu kota Jayawijaya. ”Perjalanan bisa dua hari naik turun bukit dan melintasi hutan,” ujarnya mengenang.

Kini akses jalan sudah membaik, tetapi harga kopi petani belum bagus. Belakangan, ia membuka kedai kopi di Timika sehingga dapat menampung kopi petani dari Lanny Jaya. Dengan membeli langsung kopi petani, panjangnya mata rantai terputus. Petani menerima selisih harga lebih tinggi hingga Rp 10.000 per kg dibandingkan di tengkulak.

Pemilik kedai kopi Otentik di Jayapura, Glorio Ledang, juga keluar dari rantai perdagangan konvensional. Ia mulai membangun sumber kopinya sendiri. Ia membeli biji beras sekaligus memberdayakan petaninya.

Akses sulit juga dialami warga Waerebo di Flores. Mereka mesti berjalan kaki lebih dari 5 km naik-turun gunung dengan memanggul hasil panen kopi.

Menurut Marten Forma (50), petani kopi, karena jarak ke bawah yang jauh, dulu warga membarter hasil panen kopi dengan kebutuhan pokok, seperti beras dan garam. Kini, mereka tertolong dengan kehadiran salah satu pemilik kafe di Bandung yang tertarik memasarkan kopi arabika Waerebo.

”Pembeli itu langsung mengangkut hasil kopi dari Waerebo. Dia membawa tenaga belasan orang pengangkut dari bawah (lereng gunung). Setelah itu, kopi dikirim ke Bandung dengan pesawat,” ujar Marten.

Di tengah muramnya sketsa perdagangan kopi, petani masih punya harapan. Di jalan sunyi, masih ada sekelompok orang yang berjuang mengangkat nasib warga di pedalaman. (IRMA TAMBUNAN/SIWI YUNITA C/GREGORIUS MAGNUS FINESSO/VIDELIS JEMALI)