Demam pasar atas kopi Papua belakangan membawa tantangan baru bagi Paulus Sarira. Pesanan kopi melimpah di tengah minimnya hasil panen di kebun. Pemilik usaha kopi Cartenz itu pun butuh ekstra siasat untuk menjamin pasokan tetap lancar.

Sudah menjelang malam ketika seorang petani mengantarkan sekarung kopi. Paulus segera mempersilakannya masuk. Isi karung pun dibuka. Sedikit kecewa, Paulus memperhatikan kualitas butiran biji kopi beras di dalamnya.

Biji-biji kopi itu berwarna hijau keputihan, tidak hijau terang selayaknya biji beras kopi (greenbean). “Ini berarti kandungan airnya masih sangat tinggi,” katanya kepada si petani, Maret lalu.

Kondisi biji seperti itu masih bisa disiasati. Di tempat usahanya, biji-biji kopi akan dijemur atau dikeringkan sampai memenuhi standar kandungan rendemen. Yang akan lebih sulit disiasati apabila biji kopi berbau kurang baik. Biasanya itu terjadi karena buah kopi yang habis dipanen tak langsung diolah petani, tetapi dibiarkan bertumpuk dalam karung. “Kalau sudah bau, tidak akan layak lagi untuk diolah. Mau tak mau dibuang atau dijadikan bahan pupuk saja,” ujarnya.

Memang, sudah menjadi hal jamak di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, sebagian petani belum telaten mengolah kopi. Banyak pula yang belum paham akan tuntutan standar kualitas biji beras kopi yang layak jual.

DANIAL ADE KURNIAWAN

Hasil gilingan biji kopi gabah di Dusun Pyramid, Wamena, Papua, Kamis (22/3/2018).

Sebagian besar petani pun masih mengolah kopi dengan cara tradisional alias tanpa memanfaatkan teknologi mesin. Di satu sisi, pengolahan tradisional itu justru mengangkat nilai jualnya. Sebab, sebagian konsumen menikmati seduhan kopi hasil olahan tradisional terasa eksotis. Penikmat kopi pun menghargainya sebagai hasil kerja keras petani setelah mengetahui prosesnya yang panjang, mulai dari mengupas buah kopi dengan tangan, mencuci, menjemur, hingga menumbuknya dengan alu-alu.

Di sisi lain, praktik pengolahan tradisional belum diiringi perhatian akan kualitas hasil yang baik. Fermentasi terlalu lama, misalnya, membuat aroma kopi menjadi kurang baik atau biji kopi disangrai terlalu lama sehingga kopi menjadi terlalu pahit.

Dalam hal itu, Paulus pun mengedukasi petani mengenai pengolahan kopi yang benar. Upaya itu ia lakukan demi menjaga kualitas bahan baku kopi Cartenz.

Dalam dua tahun terakhir, pesanan kopi Papua ke tempatnya memang terus naik. Paulus dapat memenuhi besarnya pesanan setelah memperoleh pinjaman modal usaha dari BRI sebesar Rp 500 juta. Bantuan pinjaman dimanfaatkan untuk membeli sejumlah mesin dan peralatan. Dari situlah ia mampu mengolah 6 ton biji beras kopi pada 2016. Volume olahan kopi meningkat menjadi 8 ton pada 2017.

Dalam sebulan, Paulus menjual rata-rata 1.500 bungkus bubuk kopi berukuran 250 gram, sedangkan penjualan biji sangrai (roasted bean) mencapai 600 kilogram per bulan. Pasar kopi pun kian luas. “Kalau dulu hanya di seputaran Wamena, sekarang peminatnya sampai ke Jawa, Sumatera, hingga luar negeri,” ujarnya.

Oleh-oleh khas

Pengolahan kopi Cartenz dimulai tahun 2011. Usaha itu awalnya tumbuh karena situasi mendesak. Sebuah usaha kopi terbesar di Wamena hengkang karena pemiliknya sudah tua. Alhasil, tamu daerah dan wisatawan yang berkunjung ke Wamena kesulitan mendapatkan kopi khas daerah itu. Mereka kerap menanyakan di mana dapat membeli oleh-oleh kopi. “Mereka katakan, tidak lengkap rasanya kalau belum membawa kopi sebagai oleh-oleh,” ucapnya.

Paulus yang memiliki kedekatan dengan petani kopi pun didatangi bupati setempat. Sang bupati memintanya untuk mencarikan bubuk kopi bagi tamu daerah. Ia pun mengerahkan petani binaan. Petani memasok biji beras, lalu ia olah hingga menjadi bubuk.

Ternyata, hasil bubuk kopinya diminati banyak orang. Dari situlah usaha bubuk kopi terus berlanjut. Awalnya, Paulus menggunakan merek dagang kopi Organik. Belakangan baru diketahui sudah ada produsen kopi lain yang menyematkan merek tersebut dalam kemasan kopi. Paulus terpaksa mengganti merek kopinya. Muncullah nama Cartenz.

Penyematan nama Cartenz lebih sebagai bentuk keprihatinan Paulus akan dampak pemanasan global. Gunung es tersebut diprediksi bakal segera mencair. Kondisi itu meresahkannya. Ia ingin membangkitkan keprihatinan semua orang.

Setiap kali orang membeli kopinya, mereka kerap bertanya, apakah kopi itu ditanam di kaki Cartenz. Ia menjawab, tentu saja tidak. Kopinya ditanam di kawasan Lembah Baliem yang berketinggian rata-rata 1.600 meter di atas permukaan laut. Namun, lanjutnya, jika es Cartenz meleleh, dikhawatirkan dampaknya memengaruhi hasil kopi di Lembah Baliem. Paling tidak, hal itu bisa mendorong peningkatan suhu yang mengurangi volume produksi kopi. Itu juga akan memicu serangan hama dan penyakit pada tanaman. Paulus pun mendorong pentingnya menjaga.

Pariwisata kopi

Paulus tak ingin kopi menjadi sekadar komoditas minuman. Baginya, potensi besar kopi masih bisa lebih maksimal dikelola. Jika dikolaborasikan dengan pariwisata, misalnya, ia optimistis perekonomian daerah itu akan semakin berkembang dari kopi.

Kondisi jalan di sebagian wilayah Papua membaik setelah penetapan otonomi khusus. Jalan di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Maret 2018.

Ia membuka Hotel Cartenz yang berjarak hanya 2 kilometer dari Bandar Udara Wamena. Produk kopinya dipasarkan pula di lobi hotel itu.

Salah satu yang dapat menjadi bagian dari promosi kopi pariwisata adalah praktik budidaya kopi secara organik. Budidaya kopi tanpa sentuhan pestisida atau bahan kimia lain dianggap menarik oleh kalangan pencinta kopi. Tak sedikit pula yang penasaran untuk mencicipi cita rasa kopi hasil organik. “Orang sudah tahu, kopi Cartenz itu berarti kopi organik,” katanya.

Target ke depan, ia berencana mengembangkan pariwisata kopi. Wisatawan diajak berkunjung ke kebun kopi dan melihat budidaya organik dan proses pengolahan tradisional biji kopi di petani. Jika kopi dan pariwisata dapat berjalan selaras, hasilnya menyejahterakan petani dan memperkuat ekonomi daerah. (IRMA TAMBUNAN)